Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad Rasulullah

Jumat, 21 November 2014

baru

Assalamu'alaikum Wr.Wb....saya aktif kembali

Rabu, 15 Januari 2014

Buku Pegangan Siswa Kelas X SMK / SMA 1. Mujahadah, Khusnudhan, ukhuwah 2. Asmaul Husna (Iman Kepada Allah) 3. Al-Qur'an Hadits, Pedoman Hidupku 4. Keteladanan Dakwah Nabi Muhammad S.A.W, di Mekah 5. Menghindari Pergaulan Beabas dan larangan mendekati zina 6. Senangnya menuntut ilmu 7. Menghadirkan Malaikat dalam kehidupan (Iman Kepada Malaikat) 8. Pengelolaan Wakaf 9. Keteladanan Dakwah Nabi Muhammad S.A.W di Madinah

Selasa, 07 Agustus 2012

Lailatul Qodr


وَسَبَبُ نُزُوْلِ هَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) عَنِ ابْنِ عَبّاَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُماَ أَنَّهُ قاَلَ ؛ ذَكَرَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدًا يُقاَلُ لَهُ شَمْعُوْنْ الغاَزِى وَهُوَ غَزاَ الكُفاَرَ أَلْفَ شَهْرٍ وَكاَنَ سِلاَخُهُ لَحْىُ جَمَلٍ وَلَيْسَ لَهُ غَيْرُهاَ مِنْ آلَةِ حَرَبٍ وَكُلَّماَ ضَرَبَ الكُفاَرَ بِهَذاَ اللَّحْيِ قَتَلَ ماَلاَيُحْصَى عَدَدُهُمْ Sebab turun surat Al-Qodr ialah sebagaimana riwayat Ibnu Abbas, beliau berkata ; Suatu hari malaikat Jibril bercerita kepada Nabi Saw, tentang kisah seorang hamba yang memiliki kekuatan super, namanya Sam’un Al-Ghozy, seorang pembela agama, berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain. Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung. فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ , فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ , فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ Jika ia merasa haus maka keluar air tawar dari tempat giginya, untuk ia minum, jika ia lapar maka dari tempat itu pula tumbuh daging dan ia memakannya. Demikianlah keadaan Sam’un sang super power dalam hari-harinya, sehingga usianya sampai 1000 bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Kaum kafir tetap tidak mampu mengalahkannya. Dia suatu kesempatan Kaum kafir ini berkata kepada istri Sam’un, karena istri Sam’un ini seorang kafir, “Kami akan memberi uang banyak, jika kamu dapat membunuh suamimu” Sang istri menjawab “Aku tidak sanggup membunuhnya” فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ , فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ , فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ Kaum kafir memberikan saran, kami memberimu tali tambang yang kuat, ikatlah kedua kaki dan tangan Sam’un di saat ia tidur, dan kami akan membunuhnya. Singkat cerita, Sam’un diikat istrinya di saat tidur, ia terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku ?” istrinya menjawab “Aku mengikatmu karena ingin mengujimu.” Kemudian Sam’un menggerakkan tangannya, sekali gerakan terputuslah ikat tambang itu. Keesokan harinya kaum kafir datang lagi kepada istri Sam’un membawa rantai, Sam’un diikat saat tidur, Sam’un terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku?” istrinya menjawab “Aku mengikatmu karena ingin mengujimu.” Kemudian Sam’un menggerakkan tangannya, sekali gerakan terputuslah rantai itu. فَقاَلَ ياَإِمْرَأَتِى أَناَ وَلِىٌّ مِنْ أَوْلِياَءِ اللهِ تَعاَلىَ لاَيَغْلِبُ عَلَىَّ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ الدُّنْياَ إِلاَّ شَعْرِى هَذاَ , وَكاَنَ لَهُ شِعْرٌ طَوِيْلٌ , فَسَمِعَتْ امْرَأَتُهُ Sang super power Sam’un berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut ini, ia memang berambut panjang. Dan ucapan itu terdengar istrinya. فَلَمَّا ناَمَ قَطَعَتْ ذَواَئِبَهُ فىِ حاَلِ نَوْمِهِ , وَكاَنَتْ ثَماَنِىُ قَطْعٍ مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ وَكُلُّهاَ تَجِرُّ عَلَى الأَرْضِ , فَشَدَّتْ بِأَرْبَعَ ذَوَائِبَ , مِنْهاَ يَدَيْهِ وَبِالأَرْبَعِ الأُخْرَى رَجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ , فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَلَمْ يَقْدِرُ عَلَى قَطْعِهاَ Ketika Sam’un tertidur, istrinya mengunting rambut panjang Sam’un, guntingan rambutnya menjadi 8 potong, semua jatuh ke tanah, sang istri mengikat Sam’un dengan 4 potongan rambut, 4 potong pertama mengikat kedua tangannya, 4 potong kedua mengikat kedua kakinya. Sam’un terbangun dan berkata “Siapa yang mengikatku ?” istrinya menjawab “Aku, aku mengikat karena ingin mengujimu.” Kali ini Sam’un tidak mampu melepaskan ikatan itu. فَأَخْبَرَتْ امْرَأَتُهُ الكُفاَرَ , فَجاَؤُا وَذَهَبُوْا بِهِ إِلىَ مَذْبَحِهِمْ وَكاَنَ فِيْهِ عُمُوْدٌ فَأَوْثَقُوْهُ عَلَى ذَلِكَ العُمُوْدِ , فَقَطَعُوْا أُذُنَيْهِ وَعَيْنَيْهِ وَشَفَتَيْهِ وَلِساَنَهُ وَيَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَكُلُّهُمْ يَجْتَمِعُوْنَ فىِ ذَلِكَ البَيْتِ Kemudian sang istri memberitahukannya kepada kaum kafir, mereka beramai-ramai membawa Sam’un ke sebuah rumah, tempat mereka menghukum mati seseorang dengan memenggal lehernya, di tengah rumah itu terdapat tiang, mereka mengikat Sam’un di tiang itu, mereka memotong kedua telinga Sam’un, mencongkel kedua mata Sam’un, menggunting bibir dan lidah Sam’un, kedua tangan dan kedua kakinya pun di potong, semua orang berkumpul menyaksikan Sam’un di mutilasi di rumah tersebut. فَاَوْحَى اللهُ تَعاَلىَ إِلَيْهِ ؛ أَىُّ شَيْءٍ تُرِيْدُ بِهِمْ أَصْنَعُهُ ؟ فَقاَلَ أَنْ تُعْطِيَنِى مِنَ القُوَّةِ حَتَّى أَحْرَكَ عُمُوْدَ هَذاَ البَيْتِ فَيَنْهَدِمَ عَلَيْهِمْ , فَقَواَهُ اللهُ وَحَرَّكَ نَفْسَهُ فَوَقَعَ السَّقَفُ عَلَيْهِمْ وَأَهْلَكُوْا جَمِيْعاً وَامْرَأَتُهُ مَعَهُمْ , فَأَنْجاَهُ اللهُ تَعاَلىَ مِنْهُمْ وَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ أَعْضاَءَهُ Disaat kritis seperti itu Allah memberi wahyu (kasih sayang) kepada Sam’un dan menawarkan “Apa yang kamu inginkan pada kaum kafir ini, Aku akan melakukannya wahai Sam’un ?” Sam’un menjawab “Berilah aku kekuatan, aku ingin menghancurkan tiang ini, sehingga rubuh dan menimpa mereka. Allah Swt pun memberinya kekuatan dan Sam’un menggerakkan dirinya, dan hancurlah tiang rumah itu, atapnya menimpa semua orang sehingga tewas, termasuk istrinya. Allah selamatkan Sam’un dan Allah kembalikan keadaan tubuh Sam’un seperti sedia kala. فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ Setelah peristiwa itu Sam’un melakukan ibadah selama 1000 bulan, malamnya tahajud siangnya berpuasa. Ia juga berperang membela Agama Allah. فَبَكَى أَصْحاَبُ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِشْتِياَقاً لِذَلِكَ , فَقاَلُوْا ياَرَسُوْلَ اللهِ هَلْ تَدْرِى ثَواَبَهُ ؟ فَقاَلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ السَّلاَمُ لآَأَدْرِى Mendengar kisah Sam’un itu, para sahabat Nabi Saw terharu, mereka bertanya “Wahai Rasulullah apa tuan tahu, berapa besar pahala Sam’un ibadah seperti itu ?” Nabi menjawab “Aku tidak mengetahuinya” فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ Maka Allah turunkan malaikat Jibril membawa surat Al-Qodr, dan berkata “Wahai Muhammad aku berikan kamu dan ummatmu Lailatulqodr, melakukan ibadah di malam itu lebih baik dari ibadah 70 ribu bulan”. قاَلَ الإِماَمُ الرَّازِى فَإِذاَ طَلَعَ الفَجْرُ فىِ لَيْلَةِ القَدْرِ ناَدَى جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ياَمَعْشَرَ المَلاَئِكَةِ الرَّحِيْلَ الرَّحِيْلَ , فَيَقُوْلُوْنَ ياَجَبْرَئِيْلُ ماَصَنَعَ اللهُ بِالمُسْلِمِيْنَ فىِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ أُمَةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ لَهُمْ ؛ إِنَّ اللهَ تَعاَلىَ نَظَرَ إِلَيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ وَعَفاَ عَنْهُمْ وَغَفَرَ لَهُمْ إِلاَّ أَرْبَعَةَ نَفَرٍ , قاَلُوْا مَنْ هَؤُلاَءِ الأَرْبَعَة ؟ قاَلَ مُدَمِنُ الخَمْرِ وَعاَقُ الواَلِدَيْنِ وَقاَطِعُ الرَّحْمِ وَالمَشاَحِنُ , يَعْنِى المُصاَرِمُ وَهُوَ الَّذِى لاَيُكَلِّمُ أَخاَهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيّاَمٍ Imam Ar-Rozi berkata ; Apabila fajar telah terbit di malam qodar, maka malaikat Jibril berkata (jumpa pers) Jibril : Wahai para malaikat, kumpul kemari dan kumpul kemari.., Para malaikat : Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam mini dari ummat Nabi Muhammad SAW? Jibril : Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok. Para malaikat Siapa empat kelompok itu ? Jibril : Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi. Keempat, orang yang bertengkar, yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari. Pustaka : Durratun-Nasihin - Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad, hal. 284-285 Disebabkan banyak dan adanya perbedaan dalalah pada hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai lailatulqodar, muncul pula perbedaan penarikan kesimpulan dikalangan para ulama dalam menentukan kapan jatuhnya malam penuh kemuliaan tersebut. Tapi, pendapat paling rajih adalah malam-malam sepuluh terakhir, terutama pada malam-malam ganjil; malam ke 21, 23, 25, 27 atau 29. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda; (التمسوها في العشر الأواخر، في الوتر". رواه البخاري (1912" “ Silahkan kalian jelang disepuluh malam terakhir.. dimalam ganjil” (H.R. Bukhari). Para ulama kita juga menyebutkan beberapa pertanda saat tibanya malam lailatulqadar, diantaranya; 1. Di malam tersebut cuaca dan suhu udara bagus; udara tenang, tidak ada ribut dan angin kencang. Suhu yang adem, tidak panas dan tidak dingin. قال عليه الصلاة والسلام: " ليلة القدر ليلة طلقة لا حارة ولا باردة، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة ". رواه ابن خزيمة . Rasulullah saw bersabda; "malam lailatulqodr malam yang nyaman, tidak panas dan tidak dingin. Pagi harinya matahari terbit merah pudar..”. (H.R. Ibnu Khuzaimah). 2. Langit cerah dan cahaya malam terasa memancar lebih kuat. Bulan terang benderang sehingga bintang-bintang kurang terlihat. 3. Tidak ada meteor jatuh. " قال عليه الصلاة والسلام: " إني كنت أريت ليلة القدر ثم نسيتها. وهي في العشر الأواخر، وهي طلقة بلجة لا حارة ولا باردة، كأن فيها قمرا يفضح كواكبها. لا يخرج شيطانها حتى يخرج فجرها Rasulullah saw bersabda; “Aku pernah diperlihatkan malam lailatulqodar, tapi kemudian aku lupa. Ia dimalam sepuluh terakhir. Ia malam yang cerah, hening, tidak panas dan tidak dingin. Bulan seolah membentang cahayanya menutupi bintang-bintang. Setan pun tidak akan keluar hingga terbitnya fajar”. (H.R. Ibnu Hibban). من حديث واثلة بن الأسقع رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: " ليلة القدر ليلة بلجة لا حارة ولا باردة، لا يرمى فيها بنجم" الطبراني . Diriwayatkan oleh Imam Thabrany dari Watsilah bin asqo’ r.a bahwa Rasulullah saw pernah bersabda; “ malam lailatulqodar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, dan tidak ada pelemparan meteor”. 4. Adanya kedamaian; dimalam tersebut seorang mukmin merasa diliputi kedamaian hati dan ketenangan batin lebih dari malam-malam yang lain. 5. Seorang yang melakukan qiyam akan merasakan kenikmatan yang lebih dibanding pada malam-malam lain. 6. Mungkin Allah memberitahukan atau memperlihatkan malam tersebut kepada seseorang lewat mimpi sebagaimana yang terjadi pada beberapa sahabat r.a. 7. Dipagi harinya matahari terbit dengan cahaya lembut tanpa sinar benderang layaknya bulan purnama, ataupun dengan sinaran redup. حديث أبي بن كعب رضي الله عنه أنه قال: أخبرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: " أنها تطلع يومئذ لا شعاع لها ". رواه مسلم. Ubay bin ka’ab ra mengisahkan bahwa Rasulullah saw pernah memberitahu; “bahwa (matahari) terbit pada paginya tanpa sinaran benderang”. (H.R. Muslim). Banyak amalan yang bisa dilakukan setiap orang untuk mengisi malam penuh berkah tersebut. Malam lailatulqodar adalah malam ibadah, malam ketaatan dan amal shalih, malam sholat dan tilawah, zikir dan doa, sedekah dan muamalah yang baik. Hal terkecil yang tidak seharusnya diluputkan oleh seorang muslim untuk ia lakukan pada malam tersebut adalah sholat isya dan shubuh berjama’ah. Karena hal tersebut ibarat qiyam semalaman penuh. Diriwayatkan bahwa rasulullah pernah bersabda; “ siapa yang sholat isya berjama’ah, seolah ia sholat separuh malam. Siapa sholat shubuh berjama’ah, seolah ia sholat semalam penuh”. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل. ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلى الليل كله". رواه أحمد ومسلم Bagi siapapun yang mendapati malam tersebut, doa terbaik untuk ia lantunkan adalah istighfar, berdoa memohon keampunan. عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت : " يا رسول الله، أرأيت إن وافقت ليلة القدر، ما أقول" ؟. قال: "قولي: (اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني)". رواه الإمام أحمد والترمذي (3513) وابن ماجه (3850 Dari ‘Aisyah r.a, ia pernah menanya Rasulullah saw; “ Ya Rasulallah, apa pendapatmu jika aku mendapati lalilatulqodar, apa yang harus kuucapkan”. “ ucapkan; allahumma innaka ‘afuww-un karim, tuhibbu al’afwa fa’fu ‘anni” “Ya allah.. sungguh engkau maha pemaaf lagi maha mulia, kau suka memaafkan.. maafkanlah kesalahanku”. Moga bermanfaat, wallahu a’lam bish-showab. (dari berbagai sumber)

Selasa, 26 Juni 2012

Marhaban Ya..Ramadhan

Marhaban ya Romadlon, mari sambut bulan penuh berkah, ampunan dan pahala tahun ini dengan ilmu yang benar dan amalan yang ikhlas. Ramadhan 1433 H segera akan datang, Insya' Allah pada pertengahan bulan Juli 2012 kita akan mulai menjalani ibadah puasa. Alangkah baiknya sekiranya dari sekarang kita mempersiapkan diri dengan banyak mencari ilmu yang berkaitan dengan ibadah Puasa. Blog ini dimaksudkan untuk memudahkan anda memahaminya sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahhu'alaihi wassalam. Semoga Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik. Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah Ta'ala. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan. Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? 1. Berdoa agar Allah Ta'ala. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. 2. Pujilah Allah Ta'ala. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. 3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad). 4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. 5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21. 6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah Ta'ala. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7. 7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta'ala di bulan Ramadhan. 8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Semoga Allah Ta'ala memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam.

Selasa, 10 April 2012

Alhamdulillah الحمد لله

Alhamdulillah
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
Arabic
الحمد لله
Transliteration
Al-Ḥamdulillāh,
Alḥamdulillāh
Translation
Praise to God

Alhamdulillah or (الحمد لله) is an Arabic phrase meaning "Praise to God." It is used by Arabic-speakers of all religions, but more frequently by Muslims due to the centrality of this specific phrase within the texts of the Qur'an and the words of the Islamic prophet Muhammad.


However, its meanings and in-depth explanation have been the subject of much exegesis.

The phrase has three basic parts:

Al - The
Hamd-u - meaning the "feeling of gratitude", as opposed to Shokr, "words of gratitude".
Li 'llah - preposition + noun Allah. Li is a preposition meaning for, belonging to, etc.

Note: (1) The word "Allah" is the fusion of the article al (the) and the word ilah (a god, deity). Very much like in English, "The" article is used here to single out the noun as being the only one of its kind, "The god" (the one and only) or "God" with a capital G (the concept of capital letters does not exist in Arabic). Therefore, "Allah" is the Arabic word for "God". (2) "ilah" is the Arabic cognate of the ancient Semitic name for God, El

It also means that anything in existence to which is ascribed praise, thanks, glorification, or gratitude, is only able to achieve it due to God's infinite mercy and grace.

Alhamdulillah: in theory, it is to be said with a profound sense of love, adoration, and awe of the power, glory, and mercy of God. In practice, however, its use is so widespread in Arabic-speaking countries that it might better be understood as meaning "thankfully," "thank goodness," or "thank God" as used in American English. Which is to say that not all Arabic speakers who use the phrase are consciously praising God when they say it.

Furthermore, it not only praises God in general for the above-mentioned qualities, but also seeks to praise Him specifically for those attributes of God's names in Islam, which God did necessarily have as omnipotent (such as all-seeing, all-hearing), but rather chose to have out of His mercy (the Loving (Al-Wadud), the Beneficent (Ar-Rahman)) and showering Grace upon His servants.

Some of the 99 Names of God in Islam, referred to by this idea are:

Al-Wadud (the Loving)
Ar-Rahman (The Beneficent)
Ar-Raheem (The Merciful)
Al-Kareem (The Generous)
Al Ghafur (The Forgiving)
As-Salaam (The Peace)

The phrase is first found in the second verse of the first sura of the Qur'an (Al-Fatiha). So frequently do Muslims and Arabic-speaking Jews and Christians invoke this phrase that the quadriliteral verb Hamdala حمدل, "to say al-Hamdu li-'llah" was coined, and the derived noun Hamdalah حمدلة is used as a name for this phrase.

In Islam, Alhamdulillah is used in the following situations:

After burping.
Alhamdulillah
After sneezing.
Alhamdulillah
Thank God.
Waking up.
Alhamdulillah-hillathee ah-yana ba'da ma ama tana wa ilayhi nushoor.
Many thanks to God Who has given us life after having given us death (sleep) and that our final return (on the Day of Qiyaamah End of the world) is to God.
Response to "How are you?"
Keifa haluka, Wech rak?, Keifik? or Keifilhal?
Alhamdu lillahi
Thank God, I am fine.
In general, every time a Muslim desires to praise God, they say
Alhamdulillah (الحمد لله).

The triconsonantal root Ḥ-M-D (ح م د), meaning "praise," can also be found in the names Muhammad, Mahmud, and Ahmad.
[edit] Hadith mentioning virtues of this phrase

Jabir ibn Abd-Allah reported that Muhammad, said: "The best remembrance of Allah is to repeat La ilaha ilallah and the best prayer (du'a) is Alhamdulillah (all praise belongs to Allah)." (Narrated by Nasa'i, Ibn Majah, and Hakim who declared its chain sound)

Abu Huraira reported that the Prophet said: "Any matter of importance which is not begun with Alhumdulillah remains defective." From Abu Dawood

Anas bin Malik reported that the Prophet said: "Allah is Pleased with His slave who says, 'Alhumdulillah' when he takes a morsel of food and drinks a draught of water." From Muslim

Selasa, 27 Maret 2012

IMAN, ISLAM AND IHSAN

Praise be to Allah, the Lord of the Worlds; and may His blessings and peace be upon our Prophet Muhammad and upon all his Family and Companions.

Islam has three stages: Islam, Iman, and Ihsan.

Islam: The meaning of Islam is as defined by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) when he was asked by the Angel Gabriel (Alaihi As-Salaam): “To testify that none has the right to be worshipped but Allah and that Muhammad is His Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam), to establish the prayers, to give Zakah, to fast the month of Ramadan, and to make pilgrimage to Makkah, if one is able to do so”. [Reported by Muslim and others].

Iman: The Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) said that Iman is, "To believe in Allah, His Angels, His Books, to believe in meeting Him, to believe in His Messengers, the Resurrection and the predestination." [Reported by Bukhari, Muslim and others].

This is the meaning of Islam and Iman if they are mentioned in one context. However, if only one of them is mentioned, then each one encompasses the meaning of the other one. If the word Islam only is mentioned, it includes the meaning of Iman, and vice-versa.

By the definitions of Islam and Iman, we notice that Iman is about inwardly actions, and Islam is about outside actions.

Ihsan: Ihsan is exclusively the highest status of religion, its meaning is: "To worship Allah as if you see Him, and if you do not see Him, He sees you." This is the definition of Ihsan as stated by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam).

That’s to say that Ihsan has two stages: the highest one is to worship Allah as if you see Him; if you cannot attain this status of worship, then worship Him being certain that He sees you and that He is All-Aware of your actions and deeds.

Allah knows best.

IMAN, ISLAM AND IHSAN

Praise be to Allah, the Lord of the Worlds; and may His blessings and peace be upon our Prophet Muhammad and upon all his Family and Companions.

Islam has three stages: Islam, Iman, and Ihsan.

Islam: The meaning of Islam is as defined by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) when he was asked by the Angel Gabriel (Alaihi As-Salaam): “To testify that none has the right to be worshipped but Allah and that Muhammad is His Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam), to establish the prayers, to give Zakah, to fast the month of Ramadan, and to make pilgrimage to Makkah, if one is able to do so”. [Reported by Muslim and others].

Iman: The Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) said that Iman is, "To believe in Allah, His Angels, His Books, to believe in meeting Him, to believe in His Messengers, the Resurrection and the predestination." [Reported by Bukhari, Muslim and others].

This is the meaning of Islam and Iman if they are mentioned in one context. However, if only one of them is mentioned, then each one encompasses the meaning of the other one. If the word Islam only is mentioned, it includes the meaning of Iman, and vice-versa.

By the definitions of Islam and Iman, we notice that Iman is about inwardly actions, and Islam is about outside actions.

Ihsan: Ihsan is exclusively the highest status of religion, its meaning is: "To worship Allah as if you see Him, and if you do not see Him, He sees you." This is the definition of Ihsan as stated by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam).

That’s to say that Ihsan has two stages: the highest one is to worship Allah as if you see Him; if you cannot attain this status of worship, then worship Him being certain that He sees you and that He is All-Aware of your actions and deeds.

Allah knows best.

IMAN, ISLAM AND IHSAN

Praise be to Allah, the Lord of the Worlds; and may His blessings and peace be upon our Prophet Muhammad and upon all his Family and Companions.

Islam has three stages: Islam, Iman, and Ihsan.

Islam: The meaning of Islam is as defined by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) when he was asked by the Angel Gabriel (Alaihi As-Salaam): “To testify that none has the right to be worshipped but Allah and that Muhammad is His Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam), to establish the prayers, to give Zakah, to fast the month of Ramadan, and to make pilgrimage to Makkah, if one is able to do so”. [Reported by Muslim and others].

Iman: The Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam) said that Iman is, "To believe in Allah, His Angels, His Books, to believe in meeting Him, to believe in His Messengers, the Resurrection and the predestination." [Reported by Bukhari, Muslim and others].

This is the meaning of Islam and Iman if they are mentioned in one context. However, if only one of them is mentioned, then each one encompasses the meaning of the other one. If the word Islam only is mentioned, it includes the meaning of Iman, and vice-versa.

By the definitions of Islam and Iman, we notice that Iman is about inwardly actions, and Islam is about outside actions.

Ihsan: Ihsan is exclusively the highest status of religion, its meaning is: "To worship Allah as if you see Him, and if you do not see Him, He sees you." This is the definition of Ihsan as stated by the Prophet (Sallallahu Alaihi wa Sallam).

That’s to say that Ihsan has two stages: the highest one is to worship Allah as if you see Him; if you cannot attain this status of worship, then worship Him being certain that He sees you and that He is All-Aware of your actions and deeds.

Allah knows best.

Jumat, 02 Maret 2012

IBADAH

Ibadah

From Wikipedia, the free encyclopedia


The Arabic word ibadah (عبادة) or ibada, usually translated "worship", is connected with related words literally meaning "slavery", and has connotations of obedience, submission, and humility. The word linguistically means "obedience with submission" (ta3a ma3a alkhudu3).[1]

In terms of Islam, ibadah is the obedience, submission, and devotion to Allah (God) along with the ultimate love for Him. Muslims believe that ibadah is the reason for the existence of all humanity. That is, Muslims believe that all people exist only to submit to Allah.

Ibadah consequently means following Islamic beliefs and practices – its commands, prohibitions, the halal, and the haram. For Muslims, ibadah is also something that comes from the heart, or sincerity, as a result of belief in Islam. Therefore, ibadah is something that can not be forced upon another person.

Selasa, 17 Januari 2012

RUKUN ISLAM

There are 5 pillars of Islam. They are :









1) FAITH



There is no god worthy of worship except God and Muhammad is His messenger. This declaration of faith is called the Shahada, a simple formula which all the faithful pronounce.
In Arabic, the first part is la ilaha illa Llah - 'there is no god except God'; ilaha (god) can refer to anything which we may be tempted to put in place of God - wealth, power, and the like. Then comes illa Llah: 'except God', the source of all Creation.
The second part of the Shahada is Muhammadun rasulu'Llah : 'Muhammad is the messenger of God.' A message of guidance has come through a man like ourselves.





2) PRAYER



Salat is the name for the obligatory prayers which are performed five times a day, and are a direct link between the worshipper and God.
There is no hierarchical authority in Islam, and no priests, so the prayers are led by a learned person who knows the Quran, chosen by the congregation. These five prayers contain verses from the Quran, and are said in Arabic, the language of the Revelation, but personal supplication can be offered in one's own language. Because shalat is transliterated from arabic word, so it has multiple english spellings such as salat, salah, sholat, sholah or shalah.Some peoples also called shalat as namaz.



Prayers are said at dawn, noon, mid-afternoon, sunset and nightfall, and thus determine the rhythm of the entire day. Although it is preferable to worship together in a mosque, a Muslim may pray almost anywhere, such as in fields, offices, factories and universities. Visitors to the Muslim world are struck by the centrality of prayers in daily life.



A translation of the Call to Prayer is :



God is most great. God is most great.

God is most great. God is most great.

I testify that there is no god except God (Allah).

I testify that there is no god except God (Allah).

I testify that Muhammad is the messenger of God.

I testify that Muhammad is the messenger of God.

Come to prayer! Come to prayer!

Come to success (in this life and the Hereafter)!

Come to success!

God is most great. God is most great.

There is no god except God (Allah).





3) THE 'ZAKAT'



One of the most important principles of Islam is that all things belong to God, and that wealth is therefore held by human beings in trust. The word zakat means both 'purification' and 'growth'. Our possessions are purified by setting aside a proportion for those in need, and, like the pruning of plants, this cutting back balances and encourages new growth.



Each Muslim calculates his or her own zakat individually. For most purposes this involves the payment each year of two and a half percent of one's capital.



A pious person may also give as much as he or she pleases as sadaqa, and does so preferably in secret. Although this word can be translated as 'voluntary charity' it has a wider meaning. The Prophet said 'even meeting your brother with a cheerful face is charity.'



The Prophet said: 'Charity is a necessity for every Muslim.' He was asked: 'What if a person has nothing?' The Prophet replied: 'He should work with his own hands for his benefit and then give something out of such earnings in charity.' The Companions asked: 'What if he is not able to work?' The Prophet said: 'He should help poor and needy persons.' The Companions further asked 'What if he cannot do even that?' The Prophet said 'He should urge others to do good.' The Companions said 'What if he lacks that also?' The Prophet said 'He should check himself from doing evil. That is also charity.'





4) THE FAST



Every year in the month of Ramadan, all Muslims fast from first light until sundown, abstaining from food, drink, and sexual relations. Those who are sick, elderly, or on a journey, and women who are pregnant or nursing are permitted to break the fast and make up an equal number of days later in the year. If they are physically unable to do this, they must feed a needy person for every day missed. Children begin to fast (and to observe the prayer) from puberty, although many start earlier.



Although the fast is most beneficial to the health, it is regarded principally as a method of self purification. By cutting oneself off from worldly comforts, even for a short time, a fasting person gains true sympathy with those who go hungry as well as growth in one's spiritual life.





5) PILGRIMAGE (HAJJ)



The annual pilgrimage to Makkah - the Hajj - is an obligation only for those who are physically and financially able to perform it. Nevertheless, about two million people go to Makkah each year from every corner of the globe providing a unique opportunity for those of different nations to meet one another. Although Makkah is always filled with visitors, the annual Hajj begins in the twelfth month of the Islamic year (which is lunar, not solar, so that Hajj and Ramadan fall sometimes in summer, sometimes in winter). Pilgrims wear special clothes: simple garments which strip away distinctions of class and culture, so that all stand equal before God.



The rites of the Hajj, which are of Abrahamic origin, include circling the Ka'ba seven times, and going seven times between the mountains of Safa and Marwa as did Hagar during her search for water. Then the pilgrims stand together on the wide plain of Arafa and join in prayers for God's forgiveness, in what is often thought of as a preview of the Last Judgment.



In previous centuries the Hajj was an arduous undertaking. Today, however, Saudi Arabia provides millions of people with water, modern transport, and the most up-to-date health facilities.



The close of the Hajj is marked by a festival, the Eid al-Adha, which is celebrated with prayers and the exchange of gifts in Muslim communities everywhere. This, and the Eid al-Fitr, a feast-day commemorating the end of Ramadan, are the main festivals of the Muslim calendar.





Article taken from the Islamicity.com website

http://www.islamicity.com/mosque/pillars.shtml

रुकूँ IMAN

RUKUN IMAN

Rukun; [Sin. Rukn or Rukun (Pillar), Pl. Arkan (Pillars)] means, generally as , A pillar, an essential part (or parts), fundamentals of faith, basic principle, other meanings in use are, support, foot of verse, precept, commandment, injuction, rule of action, maxims.





Iman; generally means Belief, faith, other meanings in use are, creed, trustworthiness, credence, conscience, confidence.

Hence literally "Rukun Iman" means "Pillars of faith", another almost same term is used popularly as "Rukun Islam" which means "Pillars of Islam" also popular as "Five Pillars Of Islam" can be seen in any encyclopedia.






Rukun Iman - "The Pillars Of Faith in Islam"


The Pillars of faith Iman in Islam are distinguished from the pillars of religion because they focus on the system of belief rather than merely ritual worship. They are also affected by Islamic law but guided mostly by somewhat esoteric truths of Islam. Of course a person cannot have complete faith without submission to the law.

The "Pillars" or the truths upon which the Islamic faith is premised are:


To believe in Allah (SWT) (God) in His Existence, His right to be worshipped, His Oneness, His Attributes, and His right to legislate


To believe in God's angels


To believe in the Holy Qur'an and the other Holy Books, (Torah, the Gospel of Jesus, the Psalms of David)



To believe in God's Messengers, of whom Adam was the first and the Prophet Muhammad (PBUH) was the last


To believe in the Resurrection and the Day of Judgment


To believe in Divine Preordainment



Many scholars have written various explanations of these pillars. This list of the Pillars of Faith is accepted as basic to belief in Islam by every sect and school of thought. Many scholars have written various explanations of these pillars. This list of the Pillars of Faith is accepted as basic to belief in Islam by every sect and school of thought.

Jumat, 02 Desember 2011

Keutamaan Bulan Muharram Dan Puasa Asyuro ﴿ فضل شهر المحرم وصيام عاشوراء ﴾ ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي Muhammad bin Shalih Munajjid Terjemah : Syafar Abu Difa Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2011 - 1432 Keutamaan Bulan Muharram Dan Puasa Asyuro Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, penutup para nabi dan pemimpin para rasul. Juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Adapun selanjutnya: Sesungguhnya bulan Allah Muharram adalah bulan yang agung lagi penuh berkah. Ia adalah bulan pertama ditahun hijriah dan salah satu bulan haram (yang disucikan). Yang disebut Allah  dalam firmannya: قال الله تعالى: ﴿ •                            ﴾ "Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS.at-Taubah:36) Dan Nabi  bersabda, (( السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ)) "Dalam setahun ada dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram. Tiga berurutan: Zulkaidah, Zulhijjah dan Muharram sedangkan (yang keempatnya) Rajab berada di antara Jumada dan Sya'ban." [Hadits riwayat al-Bukhari no.2958] Maksud firman Allah : " Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu" adalah pada bulan-bulan haram, karena dosanya lebih besar dari bulan lainnya. Ibnu Abbas  berkata mengenai tafsir ayat: " Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu" mulanya pada seluruh bulan, lalu dikhususkan empat bulan saja yang kemudian ditetapkan menjadi bulan haram (bulan suci). (Perbuatan haram pada bulan-bulan itu) keharamannya melebihi bulan yang lain. Pada bulan-bulan itu perbuatan dosa lebih besar dan perbuatan baik pahalanya juga lebih besar. Qotadah –semoga Allah merahmatinya- berkata dalam tafsir ayat di atas: "Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram adalah lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezaliman pada bulan-bulan lainnya. Meskipun kezaliman dalam setiap keadaan tidak diperkenankan, akan tetapi Allah  menjadikan lebih besar suatu perkara sesuai kehendak-Nya... Allah menyeleksi hamba-hambanya, Dia memilih rosul (utusan) dari malaikat dan dari manusia, memilih zikir dari segala ucapan, memilih mesjid dari tempat yang lain, memilih bulan haram (bulan suci) dari bulan-bulan yang lain, memilih hari jum'at dari hari-hari yang lain, memilih malam lailatul qodar dari malam-malam yang lain. Maka agungkanlah apa-apa yang telah Allah agungkan. Sesungguhnya yang mengagungkan apa yang Allah agungkan hanya ada pada orang-orang yang berfaham dan berakal. –selesai perkataannya- [Disarikan dari tafsir Ibnu Katsir surat at-Taubah:36] Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah Di Bulan Muharram Abu Hurairah  berkata, bersabda Rasulullah , (( أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم)) "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram." [Hadits riwayat Muslim no.1982] Sabdanya "Bulan Allah": disandarkan penyebutan bulan kepada Allah adalah sebagai pengagungan. Al-Qoori berkata: yang dimaksud adalah seluruh bulan haram. Akan tetapi telah falid bahwa Nabi  tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Sehingga hadits ini bermakna anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan memuasai seluruh harinya. Telah falid pula bahwa Nabi  meperbanyak puasa di bulan Sa'ban. Bisa jadi hal itu karena keutamaan puasa Muharram belum diwahyukan kepadanya  kecuali di akhir hayatnya sebelum dapat memuasainya. [Penjelasan an-Nawawi terhadap kitab Shahih Muslim] Allah Memilih Waktu Dan Tempat Sekehendak-Nya Al-Izz bin Abdussalam- semoga Allah merahmatinya- berkata, "Pengutamaan waktu dan tempat ada dua bentuk: pertama duniawi (keduniaan) dan kedua dini (keagamaan). Bentuk (kedua ini) berpulang kepada Allah. Dia menambahkan pahala orang-orang yang beramal pada waktu-waktu dan tempat-tempat itu. Seperti mengutamakan puasa diantara bulan-bulan, demikian juga hari asyuro (diantara hari yang lain). Pengutamaan tersebut berpulang kepada kedermawanan dan kebaikan Allah terhadap hambanya. [Qowaid al-Ahkam 1/38] Asyuro Dalam Sejarah Ibnu Abbas  berkata, "Ketika Nabi  tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro (tanggal 10 Muharram). Beliaupun bertanya, '(Ada) apa ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuh mereka, sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari ini.' Nabi  berkata, 'Aku lebih berhak meneladani Musa dari pada kalian.' Maka Nabipun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan yang lain untuk memuasainya." [Hadits riwayat al-Bukhari no.1865] Ungkapan: "Ini adalah hari baik" dalam riwayat Muslim diungkapkan dengan: "Ini adalah hari yang agung. Allah  menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir'aun beserta pengikutnya". Ungkapan: "Maka Musa memuasainya" dalam riwayat Muslim ada penambahan kalimat: "Sebagai rasa syukur kepada Allah , sehingga kamipun memuasainya". Sedangkan dalam lafal al-Bukhari: "Dan kami memusainya sebagai pengagungan terhadap Allah." Imam Ahmad meriwayatkan dengan tambahan: "Yaitu hari dimana bahtera Nabi Nuh belayar dengan tenang, sehingga Nabi Nuh memuasainya sebagai bentuk syukur." Ungkapan: "Dan memerintahkan untuk memuasainya" di dalam riwayat al-Bukhari diungkapkan: "Beliau berkata kepada para sahabatnya, 'Kalian lebih berhak (meneladani) Musa dari pada mereka, maka puasailah!'." Puasa Asyuro dikenal sejak dahulu hingga di masa jahiliah sebelum diutusnya Nabi . Telah falid dari Aisyah , dia berkata, "Orang-orang jahiliah dahulu memuasainya." Al-Qurthubi berkata, "Mungkin saja bangsa Quraisy memuasainya berpedoman kepada syari'at umat terdahulu seperti Ibrahim –alaihissalam-. Telah falid pula bahwa Nabi  telah memuasainya sejak masih berada di Mekkah, sebelum berhijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, beliau mendapatkan kaum Yahudi merayakannya sehingga menanyakan sebab perayaan meraka. Kaum Yahudi menjawab sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits. Nabi  memerintahkan untuk menyelisihi kaum Yahudi yang menjadikannya hari 'Id (hari raya). Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Musa, dia berkata, "Hari Asyuro bagi kaum Yahudi termasuk hari raya." Dan dalam riwayat Muslim, "Hari Asyuro diagungkan oleh kaum Yahudi. Mereka menjadikannya hari raya." Masih dalam riwayat Muslim: "Dahulu Yahudi Khaibar menjadikannya hari raya. Para wanita mereka mengenakan perhiasan dan lencana mereka. Sehingga Nabi  bersabda, "Maka berpuasalah kalian!" [Hadits riwayat al-Bukhari] Yang nampak adalah bahwa perintah puasa Asyuro untuk menyelisihi kaum Yahudi. Sampai-sampai Nabi  memerintahkan mereka yang tidak berpuasa dihari itu untuk memuasai sisa harinya, karena pada galibnya hari 'Id tidak berpuasa. [Selesai ringkasan perkataan Ibnu Hajar –rahimahullah- di dalam Fathul Baari penjelasan Shahih al-Bukhari] Keutamaan Puasa Asyuro Ibnu Abbas  berkata: "Aku tidak melihat Nabi  begitu antusias memuasai suatu hari yang lebih diharap keutamaannya dibanding hari-hari lain selain hari ini, yaitu hari Asyuro, dan bulan ini, maksudnya bulan Ramadhan." [Hadits riwayat al-Bukhari no.1867] Makna antusias disini adalah mengharap dengan puasa itu pahala dan dilakukan dengan rasa sukacita. Nabi  bersabda: (( صِيَامُ يَوْمَ عَاشُوْراَء أَحْتَسِبُ عَلى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ التِي قَبْلَه)) "Puasa hari Asyuro, aku mengharap pahala dari Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." [Hadits riwayat Muslim no.1976] Ini merupakan keutamaan Allah kepada kita, menjadikan puasa sehari sebagai penghapus dosa setahun penuh. Allahlah pemilik keutamaan yang besar. Hari apa asyuro itu? An-Nawawi –rahimahullah- berkata, " Asyuro dan Tasu'a adalah dua nama yang dimadkan (dipanjangkan ), beginilah yang masyhur dalam kitab lughah (bahasa). Sahabat-sahabat kami mengatakan: Asyuro adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Sedangkan Tasu'a adalah hari kesembilannya. Demikian pula yang dikatakan oleh Jumhur ulama (kebanyakan ulama). Inilah yang nampak jelas dari hadits-hadits dan kandungan makna lafal. Hal itu amat difahami oleh ahli bahasa. (al-Majmu) Dua nama itu adalah nama islami yang tidak dikenal dimasa jahiliah. [Kitab Kasyful Qonaa jilid 2, Shaum al-Muharram] Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata, " Asyuro adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Demikianlah pendapat Sa'id bin al-Musayyib dan al-Hasan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas , dia berkata, "Rasulullah  memerintahkan untuk puasa Asyuro, yaitu pada hari kesepuluh dari bulan Muharram." [Riwayat at-Turmudzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan shahih] Disukai Memuasai Hari Kesembilan Dan Hari Kesepuluh Abdullah bin Abbas c meriwayatkan: "Ketika Rasulullah  berpuasa pada hari Asyuro dan memerintahkan untuk memuasainya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullahpun  berkata, "Jika tiba tahun depan, insyaAllah kita akan berpuasa (juga) at-tasuu'a (hari kesembilan)." Abdullah melanjutkan, "Belum tiba tahun berikutnya Rasulullah  telah wafat. [Hadits riwayat Muslim 1916) As-Syafi'i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishak dan yang lainnya berkata: "Disukai memuasai hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus, karena Nabi  memuasai hari kesepuluh dan bertekat untuk berpuasa hari kesembilan. Dengan demikian puasa Asyuro ada beberapa tingkatan; yang paling rendah memuasai tanggal sepuluh saja, tingkat di atasnya memuasai hari kesembilan dan kesepuluh. Semakin banyak berpuasa pada bulan ini maka semakin utama dan baik. Hikmah Disukainya Puasa Asyuro An-Nawawi –rahimahullah- berkata, "Ulama dari kalangan sahabat kami (ulama Syafi'iah) dan selain mereka menyebutkan hikmah disukainya melaksanakan puasa at-Tasu'a sebagai berikut: Pertama: maksudnya adalah menyelisihi kaum yahudi yang hanya memuasai hari kesepuluh. Kedua: untuk menyambung puasa Asyuro dengan puasa lain. Sebagaimana dilarangnya memuasai hari jum'at saja. Yang demikian disebutkan oleh al-Khattabi dan yang lainnya. Ketiga: kehati-hatian dalam ketepatan memuasai hari Asyuro, khawatir hitungan bulan (jumlah harinya) kurang sehingga terjadi ketidaktepatan. Boleh jadi menurut hitungan adalah hari kesembilan tetapi yang sebenarnya hari kesepuluh. –selesai perkataannya- Yang paling tepat dari pendapat-pendapat itu adalah untuk menyelisihi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: "Rasulullah  melarang tasyabuh (menyerupai) Ahli Kitab dalam banyak hadits-haditsnya, seperti sabda beliau tentang Asyuro: "Jika aku hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan (juga) memuasai hari kesembilan." [Al-Fataawaa al-Kubro jilid 6 Saddu adz-Dzaroi' al-Muadhiah Ilal Muharrom] Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata dalam footnote mengenai hadits [Jika aku hidup sampai tahun depan, sungguh aku (juga) akan memusai hari kesembilan]: "Bahwa tekad Nabi untuk berpuasa tanggal sembilan maknanya bukan mencukupkan pada hari itu saja, akan tetapi menggabungkannya dengan hari kesepuluh; bisa untuk kehati-hatian, bisa juga untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nasrani, dan alasan ini yang lebih kuat. Pendapat inilah yang diisyaratkan sebagian perawi Muslim. [Fathul Baari 4/245] Hukum Memuasai Hari Asyuro Saja Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Puasa hari Asyuro menghapus dosa setahun. Memuasai hari ini saja tidak dimakruhkan (dibenci). [al-Fatawa al-Kubro jilid.5] Di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj oleh Ibnu Hajar al-Haitami disebutkan: "Tidak mengapa hanya memuasai hari itu saja (tanggal 10)." [Bab Soum Tatawu' jilid 3] Asyuro Tetap Dipuasai Meskipun Bertepatan Dengan Hari Sabtu Atau Jum'at Terdapat larangan menyendirikan hari jum'at dan sabtu dalam berpuasa kecuali puasa wajib. Akan tetapi kemakruhannya hilang jika ditambahkan satu hari atau jika bertepatan dengan ibadah syar'i yang biasa dilakukan, (seperti) sehari puasa sehari berbuka (puasa Dawud), atau nadzar, mengganti hutang puasa, atau puasa yang disyari'atkan seperti hari Arafah dan Asyuro. [Tuhfatul Muhtaaj jilid.3 Bab: Soum at-Tathawu. Musykil al-Atsar jilid.2 Bab: Soum Yaumus Sabt]. Al-Bahuti –rahimahullah- berkata, "Makruh hukumnya memuasai hari sabtu saja, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Bisyr dari kakak perempuannya, Nabi  bersabda: ((لاَ تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلاَّ فِيمَا اُفْتُرِضَ عَلَيْكُمْ)) "Janganlah kalian memuasai hari sabtu kecuali apa yang telah diwajibkan kepada kalian." [Hadits riwayat Ahmad dengan sanad yang baik dan juga diriwayatkan oleh Hakim. Hakim berkata: shahih dengan syarat al-Bukhari] Hal itu karena hari sabtu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi. Menyendirikan hari itu saja merupakan bentuk tasyabuh (meniru mereka), kecuali hari jum'at atau sabtunya kebetulan bertepatan dengan kebiasaan puasanya, seperti bertepatan dengan hari Arafah dan Asyuro, dimana pada kedua hari itu dia biasa memuasainya. Pada yang demikian itu tidaklah makruh (dibenci), karena kebiasaannyalah yang membuatnya memuasai hari itu. [Kasyf al-Qona' jilid.2 bab. Soum at-Tatowwu'] Apa Yang Dilakukan Jika Awal Muharram Samar Imam Ahmad berkata, "Jika samar baginya awal bulan Muharram, hendaknya berpuasa selama tiga hari. Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa dia memuasai hari kesembilan dan kesepuluh. [Kitab al-Mughi oleh Ibnu Qudamah jilid.3 Syiam Asyuro] Jika tidak tahu masuknya awal bulan Muharram dan inggin berjaga-jaga ketepatan hari kesepuluh, hendaknya menyempurnakan bilangan hari pada bulan Zulhijjah menjadi 30 hari, sebagaimana yang telah menjadi kaidah. Kemudian memuasai hari kesembilan dan kesepuluhnya. Jika ingin berjaga-jaga hari kesembilan, hendaknya memuasai hari kedelapan, kesembilan dan kesepuluh. (Agar bila jumlah hari pada bulan Zulhijjah kurang, dia telah mendapatkan hari kesembilan dan kesepuluh dengan yakin). Oleh karena puasa Asyuro adalah mustahabbah (disukai) bukan wajib, maka tidak diperintahkan untuk mengamati hilal (peralihan bulan) Muharram sebagaimana diperintahkan mengamati hilal Ramadhan dan Syawal. Pahala Puasa Asyuro Imam an-Nawawi –rahimahullah- berkata, "(Puasa Asyuro) menghapus seluruh dosa-dosa kecil. Artinya menghapus semua dosa pelakunya selain dosa besar. An-Nawawi –rahimahullah- melanjutkan: "Puasa hari arafah menghapuskan dosa dua tahun, puasa Asyuro menghapus dosa setahun, bacaan aamiin (dalam shalat berjamaah setelah al-Fatihah) jika bertepatan dengan bacaan aamiin malaikat dihapuskan dosanya yang telah lalu…. Semuanya itu dapat menghapuskan dosa. Jika terdapat dosa-dosa kecil yang bisa dihapus, maka dosa kecil itu dihapus. Jika dosa kecil dan besar tidak ada, maka pahalanya dicatat sebagai kebaikan dan diangkat derajatnya. Jika yang ada adalah dosa besar sedangkan dosa kecilnya tidak ada, kami berharap dapat meringankan dosa besar. [al-Majmu Syarh al-Muhadzzab jilid:6 Soum yaum 'Arafah] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata, "(Pahala berupa) penghapusan dosa ketika bersuci, shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah dan puasa Asyuro hanyalah untuk dosa kecil saja. [Al-Fatawa al-Kubro jilid:5] Jangan Terkecoh Dengan Pahala Puasa Sebagian orang terkecoh sehingga bersandar kepada pahala puasa Asyuro atau hari Arafah. Hingga sebagian mengatakan bahwa "puasa asyuro menghapuskan segala dosa selama setahun dan yang berlebih dari puasa Arafah adalah tambahan pahala." Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata, "Orang yang terkecoh ini tidak mengetahui bahwa puasa Ramadhan dan shalat lima waktu lebih agung dan lebih mulia dibanding puasa Arafah dan Asyuro. Puasa Arafah dan Asyuro hanyalah menghapus dosa yang ada di antara keduanya jika dosa besar ditinggalkan. Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, Jum'at ke Juma'at berikutnya tidak mampu menghapus dosa kecil jika tidak disertakan dengan "meninggalkan dosa besar". Hingga (jika terkumpul) keduanya barulah mampu untuk menghapus dosa kecil. Di antara orang-orang yang terkecoh ini menyangka bahwa keta'atannya lebih banyak daripada kemaksiatannya. Yang demikian karena dia tidak menghitung keburukan-keburukannya dan tidak pula menyelidiki dosa-dosanya. Jika berbuat ketaatan dia menghapal dan mengandalkannya. Mereka itu semisal orang yang beristighfar dengan lisannya atau bertasbih seratus kali sehari, tetapi kemudian menggibahi (menggunjingi/menggosipi) muslim lain dan mencabik-cabik kehormatan orang lain. Sepanjang hari yang dibicarakan adalah perkara yang tidak diridoi Allah. Jika seperti ini, yang ada hanyalah angan-angan mendapatkan keutamaan tasbih dan tahlil . Dia tidak menoleh kepada ancaman balasan berghibah, berdusta dan mengadu domba serta dosa-dosa lisan lainnya. Sungguh dia benar-benar tertipu. [Al-Mausu'ah al-Fiqhiah jilid.31 Ghururu] Puasa Asyuro Tetapi Memiliki Hutang Puasa Ramadhan Para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai puasa sunnah Asyuro sebelum menyelesaikan hutang puasa Ramadhan. Madzhab Hanafiah membolehkan puasa sunnah sebelum membayar hutang puasa Ramadhan tanpa memakruhkannya. Karena membayar hutang puasa Ramadhan tidak harus langsung. Madzhab Malikiah dan Safi'iah membolehkan dengan kemakruhan (dibenci), karena dia telah mengahkirkan pelaksanaan kewajiban. Ad-Dasuqi berkata, "Dimakruhkan (tidak disukai) berpuasa sunnah bagi mereka yang memiliki puasa wajib, seperti puasa nazar, qodho, dan kafarah. Sama saja apakah puasa sunnah itu muakadah (ditekankan) atau ghairu muakadah (tidak ditekankan), seperti Asyuro dan sembilan Zulhijjah (Arafah). Madzhab Hanbali berpendapat haramnya puasa sunnah sebelum melunasi puasa Ramadhan dan puasa sunnahnya tidak sah. Sekalipun membayar hutang puasa waktunya lapang, tetapi haruslah dimulai dengan puasa wajib hingga menyelesaikannya. [Mausu'ah al-Fiqhiah jilid 28 shoum Tatawu'] Bagi seorang muslim hendaklah menyegerakan untuk membayar hutang puasa Ramadhannya agar dapat melakukan puasa sunnah Arafah dan Asyuro tanpa polemik. Jika dia memuasai hari Arafah dan Asyuro dengan niat Qodho' (niat membayar hutang puasa wajib) dimalam harinya hal itu bisa dijadikan pengqhodo puasa wajibnya. Dan keutamaan Allah itu amatlah besar. Bid'ah (Perkara Yang Mengada-Ada) Pada Hari Asyuro Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- ditanya mengenai perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang ketika hari Asyuro, seperti memakai celak, mandi, mencat (mencutek) kuku, saling bersalam-salaman, memasak kacang-kacangan, menampakkan kegembiraan dan hal-hal lain. Apakah semua perbuatan itu ada dasarnya? Beliau menjawab: Segala puji bagi Allah. Tidak ada hadits shahih dari Nabi  mengenai hal-hal yang disebutkan, tidak pula dari para sahabatnya. Imam-imam kaum musliminpun tidak ada yang menjadikannya perbuatan yang mustahab (disukai); tidak imam yang empat, tidak pula selain mereka. Para penulis kitab-kitab yang karyanya dijadikan referensipun tidak ada yang meriwayatkan sama sekali; tidak dari Nabi  tidak pula dari para Sahabat dan Tabi'in, baik yang shahih maupun yang doif (lemah). Tetapi sebagian muta'akhirin (orang-orang belakangan) memiliki hadits seperti yang mereka riwayatkan, "barangsiapa memakai celak pada hari Asyuro tidak akan sakit mata pada tahun itu", "siapa yang mandi pada hari Asyuro tidak akan sakit pada tahun itu" dan lain sebagainya. Mereka meriwayatkannya dalam hadits-hadits maudhu (palsu) yang didustakan atas nama Nabi . Riwayat palsu lain mengatakan, "siapa yang melapangkan keluarganya pada hari asyuro, akan Allah lapangkan baginya sisa tahun-tahunnya". Semua riwayat dari Nabi  tersebut adalah riwayat dusta. Kemudian Syaikh –rahimahullah- menyebutkan secara singkat peristiwa yang terjadi pada generasi awal umat ini, dari fitnah serta peristiwa-peristiwa pembunuhan Husain  beserta apa yang dilakukan segolongan orang karenanya. Beliau berkata: Sehingga terbentuklah kelompok-kelompok jahiliah dzolimah (bodoh lagi zalim); bisa kelompok mulhid munafik (tidak percaya tuhan lagi munafik), bisa juga dholah ghawiah (sesat lagi ekstrim). Mereka memperlihatkan kesetiaan kepada Husain dan ahlulbait (keluarga Nabi); menjadikan hari asyuro sebagai hari berkabung, kesedihan dan ratapan. Dipertontonkan pada saat itu syiar jahiliah dalam bentuk menampar-nampar pipi, mencabik-cabik pakain, berkabung dengan cara berkabung jahiliah. Melantunkan nasyid-nasyid kesedihan dan riwayat berita-berita yang penuh dengan kedustaan. Kejujuran yang tersisa hanyalah memperbaharui kesedihan dan ta'asub (fanatik golongan), membangkitkan kebencian serta permusuhan, menyusupkan fitnah di tengah kaum muslimin dan menjadikannya wasilah mencaci orang-orang soleh generasi pertama. Keburukan mereka dan bahayanya terhadap umat Islam tidak dapat dijabarkan oleh orang yang pakar bicara sekalipun. Mereka itu bisa jadi dari kalangan nawashib yang sangat ta'asub (berlebih-lebihan membenci) kepada Husain dan keluarganya, juga dari orang-orang bodoh yang menghadapi kerusakan dengan kerusakan, kedustaan dengan kedustaan, dan bid'ah dengan bid'ah. Mereka mengekspresikan syi'ar kegembiraan dan kesenangan pada hari Asyuro, seperti bercelak dan berdandan, melebihkan belanja harian, memasak makanan diluar kebiasaan, serta hal-hal lain yang layaknya dilakukan pada hari lebaran dan peringatan-peringatan. Walhasil, dari mereka ada yang menjadikan hari Asyuro seperti musim dari musim-musim hari raya dan kegembiraan, sedang sebagian lagi menjadikanya sebagai hari berkabung. Dipergelarkanlah hari kesedihan dan kegembiraan. Kedua kelompok ini (terjerumus) dalam kesalahan, keluar dari sunnah Nabi. [Fatawa al-Kubro Ibnu Taimiyah] Ibnu al-Hajj –rahimahullah- menyebutkan bahwa di antara bid'ah Asyuro adalah membiasakan mengeluarkan zakat pada waktu itu, baik mengakhirkannya atau menyegerakannya. Termasuk juga mengkhususkan menyembelih ayam dan menggunakan hana (pacar) bagi wanita. [Al-Madkhal jilid.1 Yaum 'Asyuro] Kita memohon kepada Allah, agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang menjalankan sunnah Nabi mulia. Menghidupkan kita di atas Islam dan mematikan kita di dalam keimanan. Memberikan taufik kepada kita terhadap apa-apa yang dicintai dan diridhoi-Nya. Dan kita juga meminta pertolongan kepada-Nya untuk senantiasa berdzikir, bersyukur dan benar dalam beribadah kepada-Nya. Agar amal ibadah kita diterima dan dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Shalawat semoga senantiasa tercurah kedapa Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Senin, 14 November 2011

JUJUR

3H’s for Success: Honest, Humble, Helpful Setelah buku @NotesFromQatar keluar, rasanya semakin banyak orang yang mengenal singkatan yang menjadi tagline di buku tersebut, yaitu 3P’s: Positive, Persistence, Pray! Saya banyak melihat tulisan tersebut tertulis dimana-mana, baik itu twitter, facebook, status bbm, dsb. Selain itu, saya banyak juga menerima email dari orang-orang yang bersemangat setelah membaca buku #NFQ dan juga bilang kalo mereka menerapkan 3P’s dalam kehidupannya sehari-hari. I’m so happy hearing this! Bagi teman-teman yang mungkin belum tahu, 3P’s adalah semangat hidup yang harus dimiliki oleh semua manusia yang ingin meraih kesuksesan, terutama generasi muda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa. Seberapa pun besar mimpi-mimpi dan impian yang dikhayalkan, InshaAllah bisa menjadi kenyataan dengan formula 3P’s tersebut. Untuk tahu lebih banyak, saya membahas panjang kali lebar kali tinggi tentang 3P’s di buku @NotesFromQatar. Jangan lupa beli di toko-toko buku kesayangan anda hehehe.. (teteppp promosi) Nah, setelah formula 3P’s, sekarang saya mau ngasih formula sukses yang lain lagi nih.. Formula ini diajarkan oleh ayah saya, dan dibuat singkatan juga biar lebih mudah diingat. Sang formula adalah 3H’s: Honest, Humble, Helpful! Lalu apa bedanya 3P’s dengan 3H’s? Jadi gini, kalo 3P’s (Positive, Persistence, Pray) adalah semangat atau karakter yang melekat dalam diri kita (inside), sedangkan 3H’s (Honest, Humble, Helpful) adalah kualitas diri kita saat berinteraksi dengan orang lain (outside). Tiga kualitas ini sangatlah penting, karenaaa… Honest is the best attitude, Humble is the best approach, and Helpful is the best investment. Untuk postingan hari ini, saya akan membahas tentang ‘H’ yang pertama dulu aja ya.. yaitu Honest atau jujur. Karena membahas kejujuran mencakup banyak hal jadi sebaiknya dipisahkan saja, kalo ga pasti pusing bacanya karena kebanyakan. Sedangkan dua lainnya, Humble dan Helpful akan dibahas berturut-turut di dua minggu ke depan. Setuju?? Mari kita mulai! Honest Secara definisi, jujur bisa diartikan sebagai adanya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataan dalam perbuatan. Jadi, kalau suatu perbuatan atau perkataan sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan jujur, tetapi kalau tidak, berarti dusta atau bohong. Nabi Muhammad saw adalah contoh terbaik seorang manusia di muka bumi ini untuk hal kejujuran. Nama beliau sudah sangat popular di kalangan masyarakat Quraisy dengan sebutan Al-Amiin, yang berarti orang jujur dan sangat terpercaya. Ada hal yang menarik dari penganugerahan gelar tersebut. Pertama, gelar Al-Amiin diberikan oleh orang-orang Quraisy yang saat itu terkenal dengan peradaban jahiliyah (kebodohan). Sebuah peradaban yang sangat rusak dan tidak bermoral.Walaupun demikian, kejujuran Rasulullah tidak luntur oleh peradaban bobrok tersebut. Namun justru beliau menunjukkan bahwa kejujuran bisa berlaku dimana saja, bahkan dalam suatu peradaban terhancur sekalipun. Kaum yang paling bobrok pun memberikan suatu penghargaan kepada Nabi Muhammad saw dengan gelar Al-Amiin tersebut. Suatu gelar yang tidak pernah ada lagi setelah beliau wafat. Kedua, gelar Al-Amiin telah diberikan oleh kaum Quraisy kepada Rasulullah saat berumur sekitar 20 tahun, dan ini jauh sebelum beliau diangkat menjadi seorang nabi pada umur 40 tahun. Penganugerahan gelar Al-Amin yang sudah diberikan jauh sebelum masa kerasulan beliau mengandung hikmah serta makna yang dalam bahwa kejujuran adalah modal dasar yang sangat diperlukan untuk menempuh kerasnya kehidupan, baik sebagai hamba Allah Swt maupun sebagai seorang rasul yang akan berlaku sebagai khalifah di muka bumi ini. Mata Uang Universal Jujur adalah perbuatan yang sangat terpuji dan menjadi mata uang universal yang berlaku dimana pun. Maksudnya, semua orang, tanpa pandang bulu, pasti suka dengan orang jujur. Dari mulai tukang parkir, tukang cendol, tukang batagor, sampe tukang pukul juga suka ama orang yang jujur. Dari profesi dokter, polisi, dosen, menteri, sampai seorang presiden pun kalo ditanya, “Suka ama orang jujur ga?” Jawabannya pasti iya semua. Kalo ada yang bilang nggak, berarti agak sakit itu orang hehehe.. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang terbiasa jujur dalam berurusan dengan orang lain, rezekinya akan berkah dan lancar. Setiap orang juga berlomba-lomba datang kepada orang jujur tersebut untuk berurusan dengannya, baik itu dalam hal bisnis atau kegiatan lainnya. Setiap orang akan merasa senang berurusan dengan orang jujur karena merasa tenang dan bisa kecipratan nama baik. Setiap orang senang dengan kejujuran, baik kawan maupun lawan merasa tentram dengan orang jujur. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun merasa ga aman, apalagi musuhnya hehehe.. Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas), dan begitu pula sebaliknya, dusta atau kebohongan dapat menghancurkan hidup seseorang. Berlaku jujur harus dilatih terus menerus dan dimulai dari sekarang, karena perilaku ini tidak akan muncul dalam satu atau dua kali latihan. Idealnya, seorang anak sudah diajarkan kejujuran sejak kecil dan harus diberikan contoh oleh orang tuanya. Ajaran dengan contoh itu lebih mudah masuknya, karena yang namanya anak kecil cenderung mengikuti apa yang dia lihat dibanding apa yang didengar. Berbicara tentang hal ini, saya punya contoh. Ibu saya selalu mengajarkan kejujuran sejak kecil dan selalu dicontohkan olehnya. Mama tidak pernah berbohong sekalipun selama 24 tahun saya mengenalnya. Beliau adalah orang yang paling saya bisa percaya karena ya ga pernah bohong. Makanya kalau mama udah menjanjikan satu hal, pasti akan saya kejer itu dan ga bakalan lupa hahaha… Biasanya ujung-ujungnya pasti ditepatin, meskipun agak telat-telat dikit. The point is, teaching by giving example is much more effective than just merely words. Biasakan jujur dimulai dari yang paling sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang jujur. Nabi Muhammad saw pun menyuruh umatnya untuk berlaku jujur karena bisa mengantarkan menuju Surga, seperti yang tertera dalam hadits berikut. “Diwajibkan atas kalian semua untuk berlaku jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke Surga. Seseorang yang senantiasa berbuat kejujuran akan ditulis di sisi Allah se agai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta (berbohong), karena kebohongan akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menyeret ke neraka. Seorang hamba yang senantiasa berbohong kan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dahsyatnya kejujuran Indonesia adalah negara yang super sangat kaya, semua orang tahu itu. Dari orang bule, negro sampe orang Indonesia sendiri juga tahu fakta tersebut. Sumber Daya Alam (SDA) kita berlimpah ruah dari Sabang sampai Merauke. Sebut aja mau apa, semua ada di negara ini. Negara yang katanya terkenal dengan sebutan gemah ripah loh jinawi totoh tentrem dan seterusnya hehe… Tapi ada satu pertanyaan miris yang mungkin selalu ada di benak kita, kenapa bangsa ini belum juga makmur seutuhnya? Kenapa orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin dan makin banyak??? Jawaban utamanya karena kejujuran. Lihat saja, segala permasalahan bangsa ini umumnya terjadi karena tidak adanya kejujuran. Problematika utama bangsa ini adalah KEMISKINAN. Lalu sumbernya dari mana? Apa karena negara ini miskin? Tentu tidak. Tapi kemiskinan terjadi karena banyaknya orang yang KORUPSI! Korupsi bisa diibaratkan sebagai tikus yang sangat rakus dan bisa memakan apa saja, bahkan kayu sekalipun. Kalau saja uang-uang tidak dikorupsi oleh segelintir orang dan kelompok, bayangkan betapa banyak alokasi dana yang bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Andai saja semua elemen bangsa ini punya satu kualitas saja, yaitu jujur, dijamin beres semua urusan. Saya teringat ada sebuah kisah pada zaman Rasulullah. Saat itu ada seseorang yang hendak ingin masuk Islam, tapi dia mengatakan tidak bisa meninggalkan perilaku-perilaku maksiatnya, jadi dia minta izin ke Rasulullah agar tetap dibolehkan melakukan maksiat. Intinya mungkin seperti ini, “Rasul, saya mau masuk Islam nih, tapi kalo boleh dilonggarin dikit aturannya ya, karena saya masih demen maksiat.” Rasulullah pun mempersilahkan orang tersebut untuk melakukan apa yang dia mau, namun dengan satu syarat: JANGAN BOHONG. Kata orang tersebut, “Wah gampang banget syaratnya. Oke deh setuju!” Ternyata setelah beberapa hari, syarat yang tadinya terlihat ringan di awal, ternyata berat juga. Rasulullah terus bertanya kepada orang tersebut apa saja yang dilakukan setiap hari dan orang tersebut sangat malu jika menjawab habis berbuat maksiat. Akhirnya orang tersebut selalu berpikir seribu kali untuk melakukan maksiat karena ada ketakutan dalam dirinya akan ditanya Rasulullah sementara dia telah berjanji untuk tidak berbohong. Dampaknya, semakin lambat laun orang tersebut semakin meninggalkan hobi bermaksiatnya dan beribadah dengan giat. Tips-tips Ringan Untuk Jujur Jujur itu harus dilatih dan terus dipraktekkan dan bukan sekali praktek langsung jadi. Berikut beberapa tips & tricks untuk menjadi jujur (ini juga buat saya pribadi yang masih belum bisa jujur 100% hehe..) 1. Jangan mudah membuat janji. Biasanya orang bohong karena dia udah terlanjur buat janji dan ga bisa ditepatin. Misalkan ada seorang cowo janji ama gebetannya, “Besok kita dinner bareng di pinggir sungai Ciliwung ya neng.” Si neng udah sumringah dong dijanjikan seperti itu. Eehh ternyata karena satu dan lain hal, janji itu ga bisa dipenuhin, dan akhirnya si cowo ngarang alesan biar si neng ga marah, “Iya nih maaf ga bisa dinner bareng di sungai ciliwung karena harus nemenin nenek di rumah.” Padahal alasannya bukan itu. Maka dari itu, pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji. Islam mengajarkan, jika ingin membuat suatu janji, awali dengan ucapan InshaAllah, yang artinya “jika Allah menghendaki”. 2. Latih Terus. Seperti yang sudah dibahas di atas, jujur itu adalah suatu sikap yang bisa didapatkan dengan latihan terus menerus. Kalau kita sudah biasa bohong, maka jangan sungkan-sungkan minta bantuan teman, sahabat, gebetan pacar, dll untuk membantu kita menghilangkan kebiasaan bohong. Misalkan, kalo kita bohong maka harus traktir temen makan sushi. Nah lama-lama kan mikir juga, kalo traktir terus bisa bangkrut nanti. Akhirnya mikir-mikir tiap kali mau bohong. Selain itu, bisa juga minta sahabat kita untk jitak kita sebagai hukuman setiap kalo berbohong. 3. Lebih Baik Diam Daripada Berbohong. Jika kita ditanya orang lain untuk mengatakan sesuatu, maka ya katakan sejujurnya. Kalau kita tidak mau menjawab jujur karena ada hal lain yang lebih penting untuk disembunyikan, maka sebaiknya ga perlu menjawab daripada bohong, atau segera alihkan perhatian pembicaraan dengan ganti topik. Kalau orang tersebut masih maksa, bilang aja, “mau tau aja deh loooo..” atau “kepo banget sih jadi orang!” Nabi Muhammad saw pun mengajarkan dalam haditsnya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengatakan yang baik, atau diam.” (HR. Bukhari) 4. Bicara apa adanya. Jangan mudah untuk menambah ucapan atau terpancing untuk menambah-nambah apa yang sebenarnya tidak terjadi, karena biasanya nanti ujungnya jadi bohong. Bahasa kerennya mungkin LEBAY alias terlalu berlebihan. Misalkan seorang pedagang lagi mau jual mobil dan dia tau kalau kualitas mobil itu biasa-biasa aja, ya sudah bilang aja apa adanya. Jangan dilebih-lebihin bilang mobil tersebut kualitas nomer 1, bisa terbang di jalanan, cuma ada satu-satunya di dunia, dan yang naik mobil ini keliatan seperti Brad Pitt dari luar kaca. Itu bohong bin ngibul namanya. 5. Bohong itu dosa dan penyakit berbahaya. Sebagai makhluk beragama yang beriman kepada Allah Swt, maka normalnya pasti ada perasaan takut dengan dosa. Kalau ada orang udah ga takut sama dosa, itu gawat banget, karena hatinya udah ketutup. Berbohong itu jelas dosa, dan dosa yang menumpuk akan menyeret kita ke neraka. Semakin sering kita berbohong, semakin sering lagi akan ada kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan kita di awal. Jadinya tambah banyak dosa dehh.. Cape dehhh… 6. Jangan terbiasa asbun dan asbak. Asbun singkatan dari asal bunyi dan asbak adalah asal nyablak hehehe.. Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas sebelum berbicara. Orang yang punya kebiasaan asbun dan asbak bisa dipastikan akan terus digerogoti kebiasaan tersebut sampai akhir hayat. Akibatnya, orang di sekeliling kita sudah tidak akan pernah percaya lagi karena namanya sudah rusak. Kalau pun kebohongan tersebut berusaha ditutup-tutupi, bagaimanapun juga pasti akan diketahui oleh orang lain (bagaikan bangkai yang lama-lama baunya akan tercium juga). 7. Banyak-banyaklah bergaul dengan pembohong. Lho kok aneh banget sarannya? Ya iya, untuk merasakan bagaimana rasanya tidak enak dibohongi kita harus merasakan dulu jadi korban dikibulin, ditipu, dikadali, dibohongi dan lain sebagainya oleh orang yang lebih jago bohong daripada kita. Dengan tahu sakit kalau dibohongi maka kita tidak akan melakukan hal itu kepada orang lain. Setuju? :) Sekian tulisan bagian pertama tentang honest dari tiga seri tulisan mengenai kualitas 3H’s. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang lebih jujur dimulai dari sekarang. Karena dengan kejujuran, InshaAllah kita akan mendapatkan balasan dari Sang Maha Pencipta berupa sebuah Surga yang akan kekal tinggal di dalamnya. Allah Swt berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfa’at bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapnya . Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. Al-Maidah [5]: 119) .March 11, 2011 by Muhammad Assad

Rabu, 12 Oktober 2011

PUASA ITU MENYEHATKAN

Puasa Itu Menyehatkan

Oleh dr. H. Naharus Surur

PENDAHULUAN


Shaum atau yang lebih dikenal dengan sebutan puasa merupakan suatu kewajiban yang dilaksanakan tidak hanya Umat Muhammad tetapi juga oleh umat terdahulu sebagaimana tercantum dalam firman Allah QS 2:183.

Al Qurtubi dalam Al Jami'Li Ahkamil Qur'an pada saat menjelaskan ayat "Kama Kutiba 'Alal Ladzina Minqoblikum (artinya sebagaimana telah ditetapkan atas orang-orang sebelum kamu)" mengatakan bahwa Asy-Sy'bi, Qotadah dan lain-lain menandaskan bahwa penyerupaan (tasybih) disini, kembali pada waktu berpuasa dan kadar lama berpuasa. Sebenarnya Allah telah memfardhukan atas umat Nabi Musa dan Nabi Isa puasa Ramadhan, akan tetapi mereka merubahnya. Pada suatu ketika salah seorang pendeta sakit, lalu bernazar "Jika Allah menyembuhkannya dia akan menambah sepuluh hari lagi". Selain itu puasa juga dilakukan oleh orang mesir kuno, Yunani, orang Hindu dan umat yang lainnnya. Hasil penelitian para dokter menunjukkan bahwa manusia bukanlah satu-satunya mahluk hidup dimuka bumi ini juga melakukan puasa. Hewan berpuasa; seperti burung, ikan-ikan, serangga dan yang lain-lain. Mereka melakukan puasa dengan cara sesuai dengan dunianya, yaitu ada yang masuk lubang dengan tidak makan dan bergerak selama berhari-hari bahkan ada yang berbulan-bulan, burung yang tinggal di sarangnya pada musim tertentu, ikan yang masuk ke lubang di sungai atau di laut untuk beberapa masa tertentu.

Shaum juga merupakan salah satu ibadah yang sangat istimewa kedudukannya disisi Allah, ini sesuai dengan haidst "Segala amalan kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dari sepuluh hingga 700 kali. Allah berfirman : "Kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya; ia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya lantaran Aku". Seorang yang berpuasa memperoleh dua kesenangan: Kesenangan dikala berbuka dan kesenangan dikala berhadapan dengan Allah. Dan benar-benar bau busuk mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah dari pada bau kasturi (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Selain itu puasa juga memiliki keistimewaan-keistimewaan bila ditinjau dari segi kesehatan sesuai dengan hadist "Shumu tashihhu". Untuk mengurai lebih jauh tentang hadist tersebut diatas, maka kami akan uraikan dalam tulisan ini.

MANFAAT PUASA

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda "Shumu tashihhu" (berpuasalah niscaya kamu akan sehat (HR. Thabrani) ). Sabda Rasulullah ini mengisyaratkan bahwa dibalik puasa tersebut ada hikmah bagi kesehatan manusia, baik kesehatan jasmani, rohani dan sosial. Sabda Rasulullah tersebut telah dibuktikan oleh para sarjana kedokteran baik itu kesehatan jasmani, rohani maupun kesehatan sosial. Ini sesuai dengan definisi sehat yang dibuat oleh WHO, sehat ialah kondisi baik tidak hanya jasmani, tetapi juga rohani dan sosial. Berikut ini akan kita uraikan lebih jauh tentang dampak-dampak positif puasa terhadap kehidupan manusia.

Dampak puasa terhadap kesehatan jasmani

Shaum memberikan manfaat secara fisik walaupun itu bukan tujuannya. Tujuan shaum adalah untuk menggapai taqwa dan taat kepada Allah. Ini disinggung karena orang-orang jahil yang menuduh bahwa shaum itu merusak fisik manusia. Dan sebagai jawaban penulis nukilkan beberapada percobaan ilmiah yang dilakukan oleh para pakar dibidang kedokteran beserta komentarnya. Bertitik tolak dari hadist Nabi SAW bahwa dengan berpuasa kita akan sehat dan itu digunakan sebagai landasan teoritik, terdapat dua dimensi yang perlu dianalisis lebih lanjut, yakni (1) puasa yang bagaimanakah yang dapat memberikan manfaat pada kesehatan; dan (2) kesehatan dalam bentuk apa yang dapat dipelihara atau ditingkatkan melalui aktivitas puasa. Untuk tujuan inilah, perlu ada pengamatan perubahan fisik yang terjadi pada seseorang yang menjalankan puasa dengan mencermati faktor psikis, sehingga akan dapat diungkapkan seberapa jauh kegiatan puasa dapat menjadikannya lebih sehat.

Oleh karena itu kita akan melihat hasil penelitian dampak puasa terhadap :

Fungsi Kimiawi Tubuh (metabolisme), Termasuk disini adalah Kadar gula darah, kolesterol, SGOT, SGPT, HDL, LDL, Trigliserida

Fungsi Fisiologi
Therapi atau Pengobatan

Untuk mengurai lebih jauh tentang dampak puasa terhadap ketiga hal tersebut, maka kami akan menjelaskan hal tersebut diatas lebih rinci dibawah ini :

Pengaruh Puasa terhadap Metabolisme

Secara bukti empirik bahwa puasa dapat mempengaruhi metabolisme tubuh manusia. Disamping jaringan otot dan lemak, peran liver sangat besar dalam menyediakan glukose sebagai bahan bakar utama untuk menunjang kehidupan. Dalam kondisi sedang berpuasa, liver melepaskan cadangan glukose dan aktif membentuk glukose baru dari sisa pembakaran glukose sebagai bahan limbah metabolisme.

Disamping itu puasa juga mempengaruhi metabolisme lemak. Sebagai cadangan bahan bakar, lemak juga memiliki fungsi struktural dalam tubuh manusia yang dapat mengendalikan keseimbangan kadar unsur-unsurnya; seperti kolesterol, trigliserida, HDL, LDL. Peran liver pun sangat besar dalam proses ini. Adanya gangguan keseimbangan lemak dapat juga menjurus pada timbulnya penyakit berupa gangguan pada sirkulasi darah dan jantung. Perlu diketahui bahwa timbulnya penyakit semacam itu dewasa ini ternyata cenderung meningkat seiring dengan semakin majunya peradaban manusia.

Dibawah ini akan kita lihat hasil penelitian, pengaruh puasa terhadap fungsi kimiawi tubuh.

Pengaruh Puasa terhadap Susunan Darah

Tidak ada pengaruh terhadap frekwensi denyut jantung dan suhu badan akibat shaum. Juga kondisi hemoglobin (Hb) tetap sebagaimana biasa. Ini disebabkan waktu shaum tidak cukup untuk menimbulkan pengaruh terhadap Hb. Ini tentunya juga tidak menimbulkan perubahan berarti pada tensi darah secara umum, meski ada sedikit penurunan tensi darah pada sebagian kondisi diawal Ramadhan.

Pengaruh Puasa terhadap Assimilasi Kalori bagi Sel

Tidak ada perubahan yang terlihat pada kadar assimilasi pokok didalam sel-sel tubuh selama masa shaum. Tetapi pada wanita hamil malah meningkat, berkisar antara 15,1 kalorimeter (lebih dari biasanya) pada hari-hari pertama shaum. Hasil dalam batas potensi tubuh jika kondisi hamil tidak dimasukkan.

Pengaruh Puasa terhadap Gula Darah


A B C D E
Tidak Shaum 92 97 90 88 93
Rata-rata Tingkat Gula darah pada orang puasa 84 80 80 74 86
Wanita Hamil 88 84 72 68 81
A = Sebelum Ramadhan
B,C,D = Hari pertama hari ke-10 akhir Ramadhan
E = Sebulan sesudah Ramadhan

Dari tabel tersebut nampak ada penurunan yang menyolok pada tingkatan jumlah gula darah dalam darah. Tapi ini masih dalam batas normal (70% mg-110 mg).

Pengaruh Puasa terhadap SGOT, SGPT, Fosfat alkalin, Albumin, Globulin dan Protein darah total.
Hasil penelitian pengaruh puasa terhadap Fungsi Hati tersebut adalah normal.

Pengaruh Puasa terhadap Laju Metabolik Basal (Basal Metabolic Rate, BMR)

Hasil penelitian pengaruh puasa terhadap BMR adalah dalam batas normal. Yodium yang mengikat protein normal. Hanya jika puasa diperpanjang maka BMR turun, seperti halnya pada kegiatan fisik berat. Ini menjamin bahwa turunnya berat badan tidak berlebihan. Dengan turunnya BMR, denyut nadi dan tekanan darah juga turun.

Pengaruh Puasa terhadap Laju Filtrasi Glomerular

Hasil penelitian pengaruh puasa terhadap LFG adalah normal dan gravitasi spesifik air kencing tetap konstan seluruhnya. Nitrogen urea darah normal.

Pengaruh Puasa terhadap Magnesium (Mg)
Selama berpuasa Mg darah meningkat. Beberapa reaksi ion magnesium dapat menimbulkan pengaruh kardioprotektif sehingga kini magnesium sering digunakan dalam pengobatan jantung.

Pengaruh Puasa terhadap fungsi Fisiologi tubuh


Tubuh manusia memiliki mekanisme alamiah yang digunakan untuk mangatasi kondisi-kondisi yang tak diinginkan, agar tetap dalam kondisi normal. Mekanisme alamiah ini disebut sebagai Hemeostatis. Dalam keadaan puasa selama 14 jam tubuh tidak mendapatkan supplai makanan, akan tetapi tubuh tetap bertahan. Ini disebabkan tubuh masih memiliki cadangan energi dalam bentuk lemak yang berasal dari karbohidrat yang disimpan dalam bentuk glikogen. Cadangan energi ini mampu bertahan sampai 25 jam. Dengan demikian, mereka yang berpuasa jangan khawatir menjadi sakit karena memiliki mekanisme alamiah untuk mempertahankan dirinya.

Dibawah ini kita akan mengetahui pengaruh mekanisme puasa terhadap fungsi fisiologi tubuh adalah :

Pengaruh Puasa terhadap Otak

Pengaruh puasa terhadap daya ingat sangat besar. Ini diakibatkan oleh karena puasa mengakibatkan tidur semakin nyenyak, dan pada saat tidur nyenyak tersebut terjadi sintesis protein yang digunakan untuk memulihkan fungsi otak.

Pengaruh Puasa terhadap Jantung

Dengan puasa jantung semakin sehat, oleh karena otot-otot jantung diberikan isitrahat yang cukup untuk mengadakan recovery. Selain itu juga ada ion Mg yang berfungsi sebagai kardioprotektor.

Kadar plasma Mg rendah selama satu atau dua hari setelah Myocardial infarction dan peluang pasien untuk sembuh dari serangan jantung meningkat bila Mg segera diberikan setelah serangan jantung. Puasa mengecilkan tingkat kematian dalam Myocardial infarction, kemungkinan dengan mengurangi resiko Arrhytmia serius, terutama ventricular vibrillation yang disebabkan oleh kenaikan konsentrasi lokal katekolamin. Kekurangan Mg meningkat ketegangan nadi jantung.

Pengaruh Puasa terhadap Sistem Pencernaan

Diluar bulan Ramadhan alat pencernaan kita bekerja extra keras selama hampir 11 bulan dari 12 bulan dalam satu tahun. Oleh karena itu sepantasnyalah alat pencernaan ini diberi istirahat, paling sedikit satu bulan dalam satu tahun.

Makanan yang masuk kedalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam, yaitu empat jam diproses didalam lambung dan empat jam didalam usus kecil. Jika makan sahur dilakukan pada pukul empat pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai berbuka kurang lebih selama 6 jam, alat pencernaan mengalami istirahat total. Hal ini terjadi selama satu bulan. Masa ini cukup untuk membersihkan makanan yang tertimbun dalam usus besar dan memberikan kepada usus besar untuk beristirahat dari proses pencernaan. Oleh karena itu dalam bulan puasa usus besar bersih dari makanan yang bertumpuk, suatu hal yang menjadikan makanan tidak masam karena tidak dicerna dan membebaskan seseorang dari gas dan bau yang tidak sedap dan rusaknya alat pencernaan.

Selama proses pencernaan didalam lambung, makanan berubah wujud menjadi seperti bubur dengan tingkat keasaman tertentu. Selanjutnya didalam usus kecil diproses, disaring dan diserap sampai tingkat molekular yang amat lembut, yang disebut sari-sari makanan. Setelah proses ini, sari-sari makanan yang mengandung gizi berproses menjadi darah, yang kemudian disupplai keseluruh tubuh.

Mekanisme kerja lambung pada saat puasa
SAHUR (Kurang lebih pukul 04.00 pagi)
Selama empat jam setelah sahur -- Makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dilambung, untuk selanjutnya dikirim ke usus kecil
Empat jam berikutnya -- Makanan diubah dari wujud bubur menjadi sari-sari makanan di usus kecil, selanjutnya disupplai keseluruh tubuh melalui pembuluh darah (Kurang lebih pukul 12.00 siang)
Enam jam berikutnya -- Alat-alat pencernaan (lambung dan usus kecil) mengalami istirahat selama kurang lebih enam jam (pukul 12.00-18.00)
BERBUKA PUASA (Kurang lebih pukul 18.00 sore)
Total : Kurang lebih empat belas jam selamanya, mulai dari setelah sahur sampai berbuka, tubuh orang yang berpuasa tidak disupplai oleh makanan.

Pengaruh Puasa terhadap Ginjal

Laju filtrasi Glomerular normal, dan gravitasi spesifik air kencing tetap konstan seluruhnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi perubahan apapun pada fungsi kedua ginjal selama shaum dan justru selama ginjal menguraikan timbunan zat sisa yang membahayakan tubuh seperti elektrolit ataupun purin yang dapat menimbulkan penyakit Gout.

Pengaruh Puasa terhadap Hepar (Hati)

Dalam kondisi sedang berpuasa, liver melepaskan cadangan glukose dan aktif membentuk glukose baru dari sisa pembakaran glukose sebagai limbah metabolisme.

Aktivitas pelepasan cadangan dan pembentukan glukose baru yang disentralisasi di liver merupakan hasil proses tubuh yang sangat komplek dalam rangka mempertahankan keseimbangan lingkungan dalam tubuh. Proses ini melibatkan hampir seluruh subsistem dan organ tubuh, termasuk didalamnya sistem hormon dan susunan syaraf pusat. Pengendalian fungsi hati dalam metabolisme sangat bergantung pada hormon pankreas, insulin dan glukagon. Hormon insulin bekerja menghambat pembentukan glukose, sedangkan glukagon justru memacu pembentukan serta pelepasan glukose. Sementara itu pelepasan hormon pankreas dipengaruhi oleh kadar glukose plasma (gula darah). Apabila glukose darah turun maka pelepasan insulin dihambat, sedangkan pelepasan glukagon dipacu, sehingga hati akan meningkatkan glukoneogenesis (pembentukan glukose baru) dan melepaskan glukosenya ke darah.

Pengaruh Puasa terhadap Kulit

Setiap saat tubuh mengalami metabolisme energi, yaitu peristiwa perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi potensial dalam tubuh. Sisanya akan disimpan didalam tubuh, sel ginjal, sel kulit, serta dalam bentuk lemak dan glikogen. Cadangan gizi inilah yang sewaktu-waktu akan dibakar menjadi energi jika tubuh tidak mendapat supplai pangan dari luar. Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dalam organ-organ tubuh serta sel-sel penyimpannya. Peristiwa ini lazim disebut Peremajaan Sel. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila orang yang sering berpuasa, kulitnya akan menjadi lebih segar dan lembut.

Pengaruh Puasa terhadap Hormon

Pada saat-saat tertentu, misalnya disaat sedih, gembira, cemas, bersikap sosial dan yang lainnya. Kelenjar endoktrin menghasilkan zat-zat kimia yang mengeluarkan hormon. Jika tugasnya sudah selesai, pengeluaran hormon dihentikan untuk sementara, sambil menunggu tugas yang sama. Idealnya, hormon-hormon tersebut berfungsi secara seimbang didalam tubuh. Kelebihan atau kekurangan hormon tertentu berakibat buruk bagi kesehatan. Misalnya, kekurangan hormon insulin akan mengakibatkan terkena penyakit. Diabetes Melitus, sedang bila kelebihan akan mengakibatkan hiperglikemia. Demikian dengan hormon-hormon lainnya, kekurangan atau kelebihan produksinya akan menghasilkan efek yang kurang baik bagi tubuh dan kesehatan.

Meningkatkan Fungsi Organ Tubuh

Berpuasa berarti memberikan kesempatan interval selama kurang lebih empat belas jam bagi kerja organ-organ tubuh, seperti : lambung, ginjal, liver. Selama itu tubuh tidak menerima makanan ataupun minuman, sehingga menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan tubuh dan organ tubuh. Efek rangsangan ini akan menghasilkan, memulihkan dan meningkatkan fungsi-fungsi organ sesuai dengan fungsi fisiologisnya, misalnya panca indra menjadi tajam.

Pengaruh Puasa terhadap Therapi Penyakit

Berdasarkan penelitian para pakar kesehatan, disamping puasa berdampak menyehatkan fisik juga memiliki efek terhadap penyembuhan penyakit. Penelitian tersebut dilakukan diberbagai tempat seperti Jepang, Korea, Perancis, China, Taiwan dan Amerika Serikat.

Penyakit-penyakit yang biasanya dapat disembuhkan oleh puasa adalah penyakit yang diakibatkan oleh karena terlalu banyak mengkonsumsi salah satu Zat Gizi; baik itu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.

Pada hal didalam Islam telah diatur tata cara makan yang sehat yang sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an surah Al A'rof ayat 31 yang artinya sebagai berikut : "… Makan dan minumlah tetapi jangan melampaui batas. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya". (QS 7:31)

Nabi Muhammad SAW telah bersabda, yang artinya : "Kami makan hanya bila merasa lapar, dan kalau makan tidak sampai kenyang".

Sabda Rasulullah yang lain "Perut adalah rumah penyakit dan pencegahan adalah pangkal obat. Dan asal semua penyakit adalah mengisi perut dengan berlebih-lebihan".

Sabda Rasulullah yang lain lagi "Tidaklah suatu tempat yang dipenuhi oleh bani Adam lebih jelek dari perutnya, padahal yang dibutuhkan oleh bani Adam sebatas penyangga tulang rusuk, kalau toh harus memenuhinya, maka sepertiga untuk makannya sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk pernafasannya".

Penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan oleh puasa tersebut adalah :

Diabetes Mellitus (Penyakit Kencing Manis)

Bila kita dalam mengkonsumsi karbohidrat berlebihan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan terjadinya penumpukan gula darah (glukose) dalam darah dan ini akan mengakibatkan timbulnya penyakit kencing manis.

Hal tersebut terjadi karena terlalu banyak makan mengakibatkan kelenjar ludah perut lelah, sehingga pankreas tidak cukup lagi menghasilkan insulin yang berfungsi mengolah gula. Gula yang tidak dapat diolah tersebut tetap beredar didarah, kemudian dikeluarkan melalui air kencing sehingga rasanya manis dan akibatnya kencing tersebut dikerubungi oleh semut.

Selain itu kelebihan gula didalam darah juga dapat menimbulkan Obesitas (kegemukan).

Pencegahan penyakit Kencing Manis dan Obesitas tesebut melalui Puasa, baik itu puasa sunah ataupun puasa Ramadhan. Selain itu juga melakukan olah raga yang teratur.

Hyperkolesterolaemia


Bila kita makan terlalu banyak, terutama lemak akan mengakibatkan kelebihan lemak yang akan disimpan didalam jaringan. Sampai suatu saat jaringan lemak tidak dapat lagi menampung, sehingga lemak tersebut beredar didalam darah, maka terjadilah Hyperkolesterolaemia. Kelebihan lemak didalam darah tersebut akan tertimbun di pembuluh darah dan akan mengakibatkan Arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah) dan ini akan sangat membahayakan bagi organ-organ yang mendapatkan aliran darah dari pembuluh darah yang telah menyempit tersebut. Sehingga organ tersebut akan kekurangan darah dan dapat menimbulkan kematian bila yang terkena tersebut adalah organ vital seperti jantung.

Penimbunan lemak tersebut juga bisa terjadi ditempat lain seperti pada Hati, Otak, Benjolan-benjolan dibawah kulit seperti Atherum Cyste, Lipoma (jaringan lemak yang jinak), dll.

Dengan puasa maka kelebihan-kelebihan lemak tersebut akan dibakar sebagai cadangan energi sehingga lemak tersebut akan berkurang sampai hilang sama sekali.

Gout

Penyakit ini diakibatkan oleh karena tubuh kebanyakan protein. Protein tersebut yang diurai dan tidak dipakai sehingga menumpuk di sendi-sendi di seluruh tubuh manusia. Akibatnya sendi-sendi tersebut bengkakdan menimbulkan rasa nyeri. Dengan puasa penumpukan protein tersebut akan hilang bila belum terlalu parah.

Hipertensi (Darah Tinggi)

Salah satu penyebab penyakit ini adalah kelebihan garam (Natrium) didalam darah. Therapinya dengan diet (puasa) rendah garam.

Obesitas

Ini diakibatkan tubuh kelebihan terhadap zat gizi baik itu karbohidrat ataupun lemak. Untuk menghilangkan kegemukan tersebut, di luar negeri melakukan Starvation Diet (diet lapar), Dan didalam Islam dengan melakukan puasa.

Ulkus Peptikum

Penyakit ini adalah kerusakan mukosa lambung yang timbul atas pengaruh asam dan pepsin. Penyakit ini mengakibatkan produksi asam lambung yang berlebihan sehingga mengakibatkan kerusakan dinding lambung, oleh karena asam lambung tersebut bersifat korosif terhadap dinding lambung.

Pada saat puasa, getah lambung hanya akam memproduksi asam lambung dalam jumlah sedikit. Hal ini oleh karena ada pengaruh dari Niat, yaitu kesengajaan untuk menunda jam lapar.
Indikasi-indikasi kesempurnaan Puasa yang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan :

Menyegerakan Berbuka Puasa

Dianjurkan orang yang berpuasa segera berbuka sebagaimana telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW baik melalui qoul (perkataan)-nya mapun melalui fi'il (perbuatan)-nya. Dalam Hadist riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya :

"Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka".

"Agama Islam senantiasa jaya selama umat Islam menyegerakan berbuka. Sebab orang-orang Yahudi dan Nasrani (biasa) mengakhirkannya" (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Huzaemah dan Hakim).

"Bahwa Nabi SAW biasa berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang baru masak) sebelum mengerjakan shalat, Jika tidak ada, dengan beberapa tamer (kurma kering). Jika tidak ada (juga), beliau minum air dengan beberapa teguk" (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Imam Ahmad).

Bagi negara-negara yang tidak dapat ruthab dan tamer dapat memakan makanan-makanan atau buah-buahan yang manis. Apa sebab Rasulullah menganjurkan makan makanan yang manis? Ini disebabkan karena kurma atau makanan yang manis mengandung Karbohidrat sederhana, yang langsung masuk dalam aliran darah sehingga kadar gula darah langsung melejit dan dapat digunakan untuk energi. Selain kurma, karbohidrat sederhana juga pada makanan yang manis seperti : es krim, jelly, selai, sirup, minuma ringan dan permen.

Selain karbohidrat sederhana ada juga Karbohidrat kompleks yaitu jenis karbohidrat yang memiliki ikatan kimiawi yang lebih dari satu rantai glukosa, sedang yang sederhana tadi mengandung satu rantai glukosa. Contoh karbohidrat kompleks adalah roti, nasi dan kentang, harus diuraikan dulu menjadi rantai tunggal dulu sebelum diserap dalam aliran darah dulu.

Mengakhirkan Sahur

Diantara amalan yang disunahkan oleh Nabi SAW bagi orang yang berpuasa adalah sahur yang diakhirkan. Hal ini dimaksudkan agar orang yang berpuasa mampu menjalankan puasa dan menahan lapar dan haus terutama waktu siangnya lebih lama daripada malamnya. Kita lihat sabda Rasulullah dibawah ini :

"Hendaklah kamu bersahur karena sesungguhnya didalam bersahur itu ada barokah" (HR. Bukhari dan Muslim)

"Perbedaan puasa kami dengan ahli kitab ialah makan sahur" (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa'i, Tirmidzi).

"Sahur-sahur semuanya adalah (mengandung) barokah. Karena itu janganlah kamu tinggalkan maupun seorang diantara kamu minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah azza wa Jalla dan pada Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur" (HR. Imam Ahmad).

Hadist tersebut diatas semua menunjukkan bahwa kita semua disunahkan untuk mengakhirkan sahur. Ini mengandung hikmah yang dalam untuk mengoptimalkan puasa kita.

Bila kita mengakhirkan sahur (04.00) itu artinya bahwa waktu untuk timbulnya rasa lapar tersebut akan lebih lama. Proses pencernaan tersebut memerlukan waktu kurang lebih 8 jam (mulai dari mulut sampai usus kecil) dan itu berarti bahwa siang baru terasa lapar. Lapar yang dimaksud disini adalah disebabkan karena makanan-makanan meninggalkan lambung dan usus kecil dan ini dampaknya tidak apa-apa, bisa diatasi dengan sedikit menekan perut, maka akan hilang rasa lapar tersebut. Dan bukan karena lapar oleh karena kekurangan gula darah. Bila kekurangan gula darah bisa mengakibatkan lemas bahkan sampai pingsan.

Jumat, 02 September 2011

PUASA SUNNAH DI BULAN SYAWAL

Bulan Ramadhan sudah berlalu, Di Bulan Syawal ini amalan yang penuh dengan faedah. Amalan tersebut yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Berikut ini lima faedah puasa syawal:

Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.

Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »

“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].” Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal. Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.

Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:

Puasanya dilakukan selama enam hari.
Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.



Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib

Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.

Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!

Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah

Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!

Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Sampai-sampai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah radhiyallahu ’anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?

Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.

Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ’ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.

Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, ”Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”

Sumber: www.muslim.or.id,