Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad Rasulullah

Senin, 02 Mei 2011

AMANAH

Islam mendidik para pelakunya dengan watak yang terbaik, prilaku yang paling bagus, akhlak yang paling mulia, dan perangai yang paling luhur. Islam mengontrol setiap penganutnya agar senantiasa memiliki jiwa yang mulia, hati yang hidup, dan nurani yang tanggap. Sehingga hak-hak bisa dilindungi, amal-amal bisa dijaga, dan tanggung jawab bisa dipelihara. Oleh karena itu agama Islam mendidik umatnya agar senantiasa menjaga amanah. Islam mewajibkan setiap muslim menjadi orang yang bersih dan bisa dipercaya. Seorang muslim harus selalu menjaga kehormatan diri dan integritasnya, serta menghadirkan dirinya dari kecurangan dan pengkhianatan.
Wahai umat Islam ! Sesungguhnya amanah adalah memiliki nilai yang sangat besar di dalam agama Allah. Oleh karena itu ada perintah untuk mewujudkan dan memperhatikannya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ
Tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya. (QS.Al-Baqarah :283)

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya . (QS. An-Nisa’ :58)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal :27)
Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan amanah sebagai salah satu ukuran terpenting bagi kuatnya iman dan sebagai ciri khas utama orang-orang mukmin. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah ( yang di pikulnya ) dan Janjinya. (QS. Al-Ma’arij :32)
Ma’syiral muslimin rahimahumullah ! Ayat terpenting yang menjelaskan betapa pentingnya posisi dan kedudukan amanah ialah firman Allah Subhanahu Wata’ala :

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(QS. Al-Ahzab :72)
Sungguh, ini adalah ayat penting yang menjelaskan pentingnya masalah ini dan besarnya tanggung jawab yang harus dipikul. Betapa langit, bumi, dan gunung-gunung merasa enggan memikul amanah tersebut, dan merasa ngeri terhadap resiko yang akan ditanggungnya. Karena melalaikan amanah itu berarti berhadapan dengan siksa dan hukuman.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Tunaikanlah amanah itu kepada orang yang mempercayakannya kepadamu. Dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” ( HR. Abu Daud, 3535 dan At-Tirmidzi, 1264 )
Di dalam Hadits lain juga disebutkan bahwa mengkhianati amanah adalah salah satu sifat orang munafik. Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
“ Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Jika berbicara berdusta, Jika berjanji mengingkari, dan Jika diberi amanat berkhianat.” (HR. Bukhari,33 dan Muslim, 59 )
Imam Ahmad dan lain-lain meriwayatkan bahwa anas Radiyallahu ‘Anhu berkata : “ Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau selalu bersabda :
“ Tidak ada iman bagi orang yang tidak menuanaikan amanah. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” ( Al-Musnad,3/135 dan Musnad Abi Ya’la, 2863 )
Ibadallah ! Renungkanlah betapa pentingnya amanah dan betapa berat tanggung jawabnya. Beban ini tidak akan sanggup dipikul oleh orang-orang yang lemah lagi kerdil dan orang-orang yang zalim lagi bodoh.
Wahai umat Islam ! Jika kita telah mengetahui bagaimana posisi dan kedudukan amanah di dalam agama Allah dan nash-nash yang memuatnya, tinggal satu hal penting yang harus diketahui oleh setiap muslim. Apalagi banyak orang yang tidak mengetahuinya. Hal penting itu ialah “Pengertian Amanah”. Karena banyak orang awam yang memahami amanah dengan makna yang sangat sempit. Bahkan ada yang memahami bahwa amanah itu tidak lebih dari menjaga titipan saja. Padahal hakikat amanah di dalam Islam jauh lebih besar dan lebih berat, dan pengertiannya jauh lebih luas dan lebih umum.
Sesungguhnya amanah di dalam syari’at Allah memiliki makna yang sangat besar dan pengertian yang sangat luas. Ia mencakup beragam makna yang secara global ialah perasaan seorang muslim akan resiko yang dihadapinya dan kesiapannya untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam segala urusan yang diserahkan dan dibebankan kepadanya, baik urusan agama maupun dunia. Serta keyakinannya yang mantap bahwa dirinya akan ditanya tentang hal itu di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Sehingga ia pun melaksanakan segala sesuatu yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya, baik menyangkut hak-hak Allah mupun hak-hak sesama manusia.
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan amanah di dalam surat Al-Ahzab ayat 72 ialah seluruh perintah agama. Barang siapa yang melaksanakannya berarti ia telah menuanaikan amanah dan berhak menerima ganjaran dari Allah. Dan barangsiapa yang meremehkannya berarti ia telah membawa dirinya mendekati khianat yang dapat mengundang murka dan hukuman Allah di dunia dan Akhirat.
Wahai umat yang teguh menjaga agama dan memegang amanah ! Sesungguhnya amanah terbesar yang dipikul seorang muslim ialah amanah mentauhidkan Allah, mengesakanNya dalam beribadah, dan nemurnikan niat untukNya dalam beramal. Dan sesungguhnya perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu merupakan kezaliman yang paling besar dan pengkhianatan yang paling berat.
Memegang teguh Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengikuti manhaj generasi Salaf adalah amanah. Sementara bergentayangan di jalan-jalan penyimpangan, bid’ah dan kesesatan adalah pengkhianatan terhadap Allah dan RasulNya. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُون
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal :27)
Menjadikan Syari’at Allah sebagai landasan hukum dan menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya adalah amanah yang sangat besar. Sementara berhukum kepada syari’at lain di luar syari’at Allah seperti undang-undang jahiliyah adalah pengkhianatan yang nyata terhadap amanah yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala. Ini dalam berakidah dan mengikuti Sunnah.
Sedangkan dalam bab ibadah, segala macam ibadah adalah amanah yang ada di pundak setiap muslim dan muslimah. Maka wudlu adalahamanah, mandi janabah adalah amanah, shalat adalah amanah, zakat adalah amanah, puasa, haji dan ibadah-ibadah lainnya adalah amanah.
Urusan prilaku dan akhlak, seperti kejujuran, kesetiaan, kebajikan, penyambungan tali persaudaraan, kesantunan, kelapangan dada, kedermawanan, kesabaran, perasaan malu, dan persaudaraan adalah amanah. Sementara kebalikannya, seperti kebohongan, kecurangan, pemutusan hubungan, dan kebodohan adalah khianat. Begitu juga dengan dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan yang diharamkan, dan segala bentuk dosa dan kemaksiatan, seperti pembunuhan, perzinaan, peraktik sihir, perdukunan, pencurian, perampasan, pencopetan, penggunjingan, adu domba, mengada-ada, iri hati, kebencian, kedengkian, dan permusuhan, semuanya adalah bentuk-bentuk pengkhianatan.
Praktik-praktik muamalah antar manusia, seperti jual-beli, sewa-menyewa dan sebagainya adalah aspek-aspek amanah yang terpenting. Maka di situ tidak boleh ada pengelabuhan, kecurangan, penyamaran, pemalsuan, dan penyembunyian aib, karena semua itu adalah jenis-jenis khianat.
Tugas-tugas yang dibebankan pimpinan kepada para pegawai dan karyawan adalah amanah di pundak mereka. Mereka harus bertakwa kepada Allah dalam menjalankannya. Mereka harus berada dalam posisihusnudzan (baik sangka) dalam bentuk amanah (terpercaya), kafa’ah(kapabel), dan nazahah (bersih). Dan mereka harus melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Hal itu dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala, patuh kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, memberikan nasehat kepada para pemimpin, dan mewujudkan kemaslahatan umat. Jadi bertakwalah kepada Allah, wahai para pegawai, dalam menjalankan tugas-tugas anda. Jangan sekali-kali mengabaikan hak-hak masyarakat. Jangan suka meremehkan dan menunda-nunda penyelesaian urusan mereka. Jangan menutup pintu bagi orang-orang yang hendak mengadukan perkara-perkara di luar kepentingan umat. Karena hal itu adalah bagian dari aspek-aspek kecurangan terhadap umat dan pengkhianatan terhadap para pemimpinnya.
Ma’asyiral muslimin ! Ilmu adalah amanah. Maka para ulama, pengajar, pelajar, mahasiswa dan serjana harus menunaikan amanah yang ada di pundak mereka. Yaitu dengan cara menyampaikan, menjelaskan dan memberikan pendidikan, agar manfaatnya berkembang luas dan kebodohan menghilang.
Berdakwah dan melakukan amar makruf dan nahi munkar adalah amanah besar di pundak umat Islam. Dan melalaikan hal itu berarti pengkhianatan besar terhadap umat.
Saluran informasi bimbingan, pemikiran, kebudayaan, metodologi pengajaran, dan siaran-siaran yang dipancarkan melalui saluran-saluran komunikasi dan media massa adalah amanah di tangan para penanggung jawabnya. Mereka harus memanfaatkannya untuk kepentingan Islam dan umatnya.
Transaksi bisnis, tawar-menawar (negosiasi), dan proyek-proyek yang ditangani oleh lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan, serta fasilitas-fasilitas umum adalah amanah yang besar.
Waktu, masa muda, kekuatan, kesehatan, dan kemudaan adalah amanah yang harus digunakan untuk taat kepada Allah. Anggota badan seperti telinga, mata, hati, lidah adalah amanah dan titipan di tangan seorang muslim yang harus digunakan untuk melakukan sesuatau yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala, dan harus dijaga jangan sampai mendengar, memandang atau membaca hal-hal yang diharamkan. Allah berfirman :

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ :36)
Hubungan pernikahan dan urusan keluarga adalah amanah yang ada di antara suami istri dan anggota keluarga. Maka rahasia keluarga tidak boleh disebarluaskan keluar.
Anak-anak adalah amanah di pundak para ayah dan ibu yang harus dididik dan dibina dengan baik dan benar, dan harus dilindungi dari teman-teman yang jahat.
Kata-kata adalah amanah yang harus dimengerti oleh para penulis dan para pembicara.
Hak-hak majelis, keburukan dan rahasia sesama muslim adalah amanah. Betapa banyak tali kasih yang putus, hubungan persahabatan yang rusak, dan kemaslahatan yang terhenti gara-gara meremehkan hal-hal semacam ini dan mengeluarkan kata-kata tanpa pikir panjang.
Wanita adalah amanah. Menutup aurat, menjaga kehormatan diri, dan menjauhi laki-laki asing adalah amanah baginya. Begitu juga ketenangannya di rumah dan kepatuhannya kepada suaminya adalah amanah.
Harta publik atau harta pribadi adalah amanah di tangan pemegangnya yang harus dikelola berdasarkan hukum-hukum syar’i .
Saudara-saudara seiman dan seagama ! Dengan demikian kita telah memahami pengertian dari kata “amanah” yang agung ini. Dan tidak heran apabila alam semesta ini merasa keberatan untuk memikulnya. Maka setiap manusia tidak boleh meremehkan atau melalaikan amanah dalam segala pengertiannya.
Ummatal Islam ! Sesungguhnya ukuran kemajuan peradaban suatu bangsa terletak pada kebersihan para warganya dan keteguhan putra-putranya dalam menjaga amanah. Maka tidak ada kebaikan bagi bangsa yang dikuasai oleh khianat dan dipenuhi dengan kerusakan, kekurangan, keteledoran, dan kejahatan. Dan suatu bangsa akan tetap baik sepanjang mereka masih teguh memegang amanah. Jika hal ini goyah, goyahlah bangunannya, rusaklah aturannya, dan segala bentuk kerusakan akan merajalela di dalamnya.
Amanah adalah sumber keberuntungan,kebaikan dan keshalihan. Orang yang amanah akan dipuji Allah dan dipuji sesama. Tanpa amanah umat tidak akan maju dan berkembang. Tanpa amanah barang dagangan tidak akan laku di pasaran. Dan tanpa amanah, muamalah tidak akan berjalan dengan baik.
Sesungguhnya kecurangan dan kerusakan di berbagai bidang yang dikeluhkan oleh masyarakat luas seperti kerusakan birokrasi, kinerja, keuangan, dan sebagainya tidak lain adalah akibat kelalaian putra-putranya dalam menjaga amanah. Dan musibah terberat yang pernah melanda umat Islam adalah munculnya para pengkhianat yang zalim, kejam, bodoh, dan menindas hamba-hamba Allah dengan cara merampas atau mengurangi hak-haknya, merusak kehormatan dan melanggar hak pribadi mereka, baik yang lahir maupun yang batin.
Jadi, selayaknya kita semua umat Islam menjaga amanah dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Karena hal itu dengan izin Allah akan menjamin terwujudnya kebahagiaan bagi masyarakat di dunia dan Akhirat. Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk melaksanakan amanah dan tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْوَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
Amma ba’du :
Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala di dalam diri anda. Dan bertakwalah kepada Allah di dalam menjaga amanah. Ketahuilah bahwa anda semua memikul amanah di muka bumi. Setiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dan anda semua akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala atas amanah tersebut. Apakah anda menjaganya dengan baik ? Ataukah menyia-nyiakannya ? Karena di dalam sebuah Hadits riwayat Ibnu Umar Radiyallahu ‘Anhu dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya.” ( HR.Al-Bukhari, 2554, dan Muslim, 1829 )
Ikutilah jejak generasi Salaf yang yang telah membuat contoh-contoh mengagumkan dalam menjaga amanah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikenal oleh kaumnya sebagai ash-shadiq al-amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Nabi Musa ‘Alaihissalam diberi predikat al-qawiy al-amin (orang yang kuat lagi terpercaya). Nabi Yusuf ‘Alaihissalam disebut al-makin al-amin (orang yang berkedudukan tinggi lagi terpercaya).

فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ اْلأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata:"Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kamu” ,Berkata Yusuf:"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". (QS. Yusuf :54-55)
Umar bin Khattab Radiyallahu ‘Anhu pernah berkata : “Jangan takjub pada gaung (popularitas) seseorang. Tetapi, siapa yang menunaikan amanah dan tidak suka merusak kehormatan orang lain, dialah laki-laki sejati.”
Dan Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Menunaikan amanah adalah kunci rizki.”
Namun, ada Hadits yang menyebutkan bahwa amanah akan dicabut dari muka bumi pada akhir zaman. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits riwayat Hudzaefah Radiyallahu ‘Anhu yang tercatat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di situ dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alihi Wasallam bersabda :
“Seseorang akan tidur lalu amanah dicabut dari dalam hatinya.”
Sampai akhirnya beliau bersabda :
“Lalu keesokan harinya manusia melakukan jual-beli, maka nyaris tidak ada seorang pun yang menunaikan amanah. Sampai dikatakan : ‘Sesungguhnya di bani Fulan ada seseorang yang bisa percaya.” (Shahih Al-Bukhari, 6497 dan Shahih Muslim, 143)
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“ Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah Hari Kiamat.”(Shahih Al-Bukhari, 59 )
Wahai hamba-hamba Allah ! Marilah kita bertakwa kepada Allah dan menjaga perangai amanah yang agung ini. Karena hal itu dengan izin Allah merupakan tanda-tanda kebaikan dan keshalihan bagi individu dan masyarakat, serta jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan Akhirat.

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi pertama, ElBA Al-Fitrah, Surabaya .Diposting oleh Yusuf Al-Lomboky)

Senin, 04 April 2011

7 KUNCI SUKSES DUNIA AKHIRAT

SUKSES dunia akhirat pasti impian semua orang. bermacam definisi SUKSES dunia akhirat, seperti KAYA masuk SURGA, jadi presiden masuk SURGA, jadi pengusaha masuk SURGA ataupun yang lainnya, yang menggambarkan SUKSES dunia akhirat. yang KAYA, yang punya KEKUASAAN sering dikatakan SUKSES. semua orang pasti ingin SUKSES, terutama SUKSES dunia akhirat. kitapun bisa mendefinisikan SUKSES untuk kita sendiri. dan apapun definisi yang kita dapatkan, itulah sukses untuk kita. SUKSES yang bisa dibuka dengan kunci-kunci unik yang ternyata tidak jauh dari aktivitas keseharian kita.
kita anggap saja SUKSES dunia akhirat itu dapat dibuka dengan 7 kunci, karena ia berada dalam ruang dengan 7 pintu yang terkunci. dan inilah 7 kunci yang dapat membuka pintu-pintu itu:

1. taubatan nasuha
ini kunci yang paling penting dari kunci-kunci yang lainnya. ini kunci pertama yang dapat membuka pintu kesuksesan. dengan taubat, pintu kesuksesan akan terbuka. harga dari sebuah taubat itu tidak terhingga. ALLAH pun tidak pernah bosan untuk menerima hamba-Nya yang datang untuk bertaubat. saat kita datang kepada ALLAH untuk bertaubat, saat itu pula kita diampuni. kita akan bersih kembali, sehingga kita bisa melangkah untuk membuka pintu-pintu kesuksesan yang lain.

2. shalat wajib awal waktu (khusus laki-laki di masjid)
mengapa? karena sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh ALLAH. kalau sholatnya baik, maka amalan yang lain baik, kalau sholatnya buruk, maka amalan yang lain buruk. dan sholat awal waktu adalah sebuah kebaikan tersendiri. bukankah kita tidak ingin dianggap lalai jika kita tidak sholat awal waktu? jadi, jangan telat sholat wajib apalagi ga sholat.

3. lakukan shalat sunat qobliyah dan ba’diyah
kita sering mendengar bahwa sholat sunat itu dapat menyempurnakan sholat wajib. ada pula ide yang menyatakan bahwa sholat sunat ini dapat mengangkat sholat wajib agar sampai kepada ALLAH. analoginya seperti seekor burung dengan dua buah sayap. seekor burung tidak dapat terbang tanpa sayap. begitu pula sholat wajib, mungkin tidak akan sampai kalau tidak pake sholat sunat. dan sholat sunat yang dianjurkan adalah shalat sunat rawatib, yaitu qobliyah dan ba’diyah ini.

4. lakukan shalat dhuha
shalat dhuha ini banyak sekali fadilahnya. lakukan saja 2, 4, 6, 8, 10, atau 12 rokaat. kalau bisa minimalnya 4 rokaat dengan 2x salam. sebelum kita melakukan aktivitas keseharian kita, lakukanlah sholat dhuha, insya ALLAH ini pun dapat membuka salah satu pintu kesuksesan.

5. lakukan sholat tahajud dan witir
bangunlah di sebagian atau sepertiga malam yang terakhir untuk melakukan sholat tahajud. pada waktu itu, ALLAH benar-benar turun untuk ‘mengunjungi’ hamba-Nya. jadi, pada saat itu, sambutlah ‘kedatangan’ ALLAH dengan sujud kepada-Nya dalam keadaan bersih, rapi, suci dari kotoran dan najis. tidak ada do’a yang tidak dikabulkan oleh ALLAH, apalagi disaat kita mau berkorban dengan menyerahkan waktu yang terbaik kita untuk ALLAH. disaat enak-enaknya tidur, kita bangun untuk menyambut ALLAH. wah, insya ALLAH, pintu kesuksesan akan langsung terbuka.

6. sedekah yang terbaik
sedekahkan apa yang terbaik yang kita punya. makin baik sedekah kita, makin mudah kita membuka pintu kesuksesan. memang tidak apa-apa kita sedekah dengan sesuatu yang kita sebut dengan ‘sisa’, tapi itu berarti kita tidak memberikan yang terbaik. bukankah ALLAH telah memberikan kita yang terbaik? dan kita pun menginginkan sesuatu yang terbaik? maka, sedekahlah dengan sedekah yang terbaik.

7. berbuat baiklah dan tinggalkan perbuatan buruk
dengan berbuat baik, hati kita akan bersih. kita tidak memiliki noda sehingga ALLAH akan memudahkan kita untuk meraih kesuksesan yang kita impikan.
itulah 7 kunci SUKSES dunia akhirat. lakukan hal ini minimal 40 hari, rasakan apa yang terjadi pada diri kita. insya ALLAH, kesuksesan dunia akhirat akan kita raih.
PERCAYALAH! BUKTIKAN saja!
wallahu a’lam
di ambil dari Blog, RuMahQu

Minggu, 20 Maret 2011

Kiat Sucses Rasulullah SAW

HADIS MUTHAHHARAH

Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik)
Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain niscaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar niscaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

diambil dari sepia.blogsome.com

Sabtu, 05 Februari 2011

BID'AH DAN HUKUMNYA

PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.

Badiiu’ as-samaawaati wal ardli
“Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]
Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman Allah.
Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].

Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.

Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.
Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :
[1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.
[2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

MACAM-MACAM BID’AH

Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

[1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

[2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

[a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

[b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

[c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[d]. Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN

Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”.
Dan dalam riwayat lain disebutkan :
“Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.
Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak.
Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.
Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan maksiat seperti bid’ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh).
Catatan :
Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.
Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.
Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”.
Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan “itu bid’ah” maksudnya adalah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.
Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.
Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.
Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.
[Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.]

Senin, 17 Januari 2011

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Dalil Al-Qur’an Mengenai Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar Ma’ruf (mengajak kepada perbuatan baik) Nahi Munkar (mencegah perbuatan
buruk) merupakan :

1. Cara untuk mendapat keberuntungan, dunia dan akhirat (QS Ali Imran 104)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung.

2. Ciri umat manusia yang terbaik (QS Ali Imran 110)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

3. Dasar-dasar pembangunan akhlak sholihah (Qs Ali Imran 114)
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai
kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

4. Tugas mulia para nabi sejak dulu (Qs Al-A’raf 157)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka
dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh
mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar
dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada
pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya
dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka
itulah orang-orang yang beruntung.

5. Sebab-sebab turunnya rahmat (Qs At-Taubah 71)
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan
mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

6. Sifat seorang mukmin sejati (Qs Al-Hajj 41)
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

7. Kewajiban yang diperintahkan Allah SWT (Qs Luqman 17)
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).

Rabu, 29 Desember 2010

Mensikapi Datangnya Tahun Baru

Tarikh Masehi adl tarikh yg dipakai secara internasinal, dan oleh kalangan gereja dinamakan Anno Domini (AD) terhitung seja kelahiran nabi Isa. as (yesus). semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pd thn 527 M ditugaskan pimpinan Gereja utk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus).

Sistim penanggalan dan perhitungan hari, lahir dari rahim astrologi yakni ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan rasi bintang. astrologi berasal dari Mesapotamia, daratan diantara sungai tigris dan Eufrat, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak TEnggara). ilmu ini berkembang sejak jaman pemerintahan Babel kuni, kira2 th. 2000 SM.

Semula di Mesir kira2 1000SM, pr ahli perbintangan mempelajari benda2 langit hanya utk ramalan umum mengenai masa depan. pengetahuan astrologi ini diambil alih suku bangsa Babel.

Astrologi Babel kemudian mengembangkan suatu sistem yg menghubungkan perubahan musim dgn kelompok2 bintang tertentu yg disebut rasi atau konstelasi. Tetapi antara th. 600SM dan 200SM, mrk mengembangkan suatu sistem utk menghitung penanggalan hari dan menggambar horoskop perorangan.

Tarikh Masehi memiliki akar dan ikatan yg kuat dgn tradisi astrologi mesir kuno, Mesopotamia, Babel, yunani antik, dan Romawi tua serta dalam perjalanannya mendapat intervensi GEreja.

TArikh MAsehi adl tarikh yg dipakai secara internasinal, dan oleh kalangan gereja dinamakan Anno Domini (AD) terhitung seja kelahiran nabi Isa. as (yesus). semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pd thn 527 M ditugaskan pimpinan Gereja utk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus).

Masa sebelum kelahiran Nabi Isa as (yesus) dinamakan masa sebelum masehi. semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. dgn sebuah gagasan teologis Nabi Isa as (Yesus) sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia. Tahun kelahiran Nabi Isa. as (Yesus) dihitun tahun pertama atau awal perjanjian baru. Tarikh yg berdasarkan sistem matahari ini sebelum menjadi sempurna seperti yg kt kenal sekarang mengalami sejarah yg cukup panjang, sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julis Caesar.
Maklumat Julis Caesar

semula tarikh orang romawi ini terbagi dlm 10 bln saja yaitu :
1. Martius (Maret)
2. Aprilis ( April )
3. Maius ( Mei)
4. Junius ( Juni)
5. Quintilis ( Juli)
6. Sextilis (Agustus)
7. September (September)
8. October (oktober)
9. November (Nopember)
10.December (Desember)

seperti halnya dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi tarikh Masehi ini adan kaitannya dengan DEWA bangsa Romawi. contoh , bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama dewa MAia dan bulan Junius mengambil nama dewa Juno.

sedangkannama2 Quintrilis, Sextrilis, September, October, November & December adl nama yg diberikan berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, september bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh.

adapun nama bulan Aprilis diambil dr kata Aperiri, sebutan utk cuaca yang nyaman didlm musim semi, berdasarkan nama2 tsb diatas nampak bhw pd zaman dahulu permualaan tarikh jatuh pada bulan maret.

hal ini erat kaitannya dgn musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat di Erofa. bulan MAret (tepatnya 21 Maret) adl permulaan musim semi. awal musim semi disambut dgn perayaan sukacita krn dipandang sebagai mulainya kehidupan baru, setelah selama 3 bln mengalami musim dingin yg membosankan. jadi kedatangan musim semi ini dirayakan sebagai PERAYAAN TAHUN BARU setiap tahun.

tarikh yg hanya terdiri atas 10 bln itu kemudian berkembang menjadi 12 bln. berarti ada tambahan 2 bln, yaitu bln Januarius dan Februarius Januarius adl nama yg berasal dari nama dewa Janus, dewa ini berwajah dua, menghadap kemuka dan kebelakang, hingga dpt memandang masa lalu dan masa depan, sebab itu Januarius ditetapkan sebagai bln pertama.

Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih desa atau ruwatan utk menyambut kedatangan musim semi. dengan ini februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pd bln MAret.

demikianlah, maka bulan2 yg terdahulu letaknya di dalam tarikh baru menjadi tergeser dua bulan , dan susunannya menjadi : Januarius, FEbruarius, MArtius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan december.

pd ahkhirnya, nama 2 Quintrilis sampai december menjadi tanpa arti, karena posisi dalam urutan kedudukannya yang baru didalam tarikh, tdk lg sesuai dgn arti yg sebenarnya, sistem yg dipakai waktu itu belum merupakan sistem matahari murni, msh banyak kesalahan atau ketidak-cocokan yg makin jauh melesetnya.

Pada saat JULIUS CAESAR berkuasa kemelesetan tlh mencapai 3 bulan dr patokan yg seharusnya.

dlm kunjungan ke MEsir thn 47 SM, Julius Caesar sempat menerima anjuran dr pr ahli perbintangan Mesir utk perpanjang thn 46 SM menjadi 445 hari dgn menambah 23 hr pd bln Februari dan menambah 67 hari antara bln November dan December.

Rupanya ini merupakan tahun pertama dalam sejarah, namun adanya kekacauan selama 90 hr itu, perjalanan tahun kembali cocok dengan musim.

Sekembali ke Roma Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinyitu dr Mesir.

adapun isi keputusannya adl :
Pertama, setahun berumur 365 hr. krn bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hr, sebenarnya terdapat kelebihan 0,25x24jam = 6jam setiap tahun.

kedua setiap 4 tahun sekalu, umur tahun tdk 365 hr, tetapi 366 hr, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yg dlm 4 thn menjadi 4×6=24 jam atau 1 hr.

penampungan sehari tiap tahun kabisat ini dimasukkan dlm bln Februari, yg pd thn biasa berumur 29 hr, pd thn kabisat menjadi 30 hr.

sebagai peringatan atas jasa Julius Caesar dlm melakukan penyempurnaan tarikh itu, mk tarikh tersebut disebut tarikh JULIAN. dengan menganti nama bulan ke-5 yg semula Quintilis menjadi Julio, yg kt kenal sebgai bln Juli.

utk mengabdikan namanya, Kisar Augustus, yg memerintah stlah Julius Caesar, merubah nama keenam Sextilis menjadi Augustus. perubahan itu diikuti dgn menambah umur bln Augustus menjadi 31 hr, karena sblumnya bln Sextilis umurnya 30 hr saja, penmabahan satu hari itu diambilkan dr bln Februari, karena itulah bulan Februari umurnya hanya 29 hr atau28 hr pd tahun kabisat.

sementara waktu berjalan terus dan tarikh Julian yg sdh tampak sempurna itu, lama2 memperlihatkan kemelesetan juga. apabila pd zaman Julis Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hr dr patokan.

akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui sebab2nya, kala revolusi bumi yg semula dianggap 365.25 hr, ternyata tepatnya 365 hr, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik, jd ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlanya.

atas kemelesetan itu, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja KAtolik di Roma pd thn 1582 melakukan koreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat :
Pertama, Angka tahun pd abad pergantian, yakni angka tahun yng diakhiri 2 nol, yg tdk hbs dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lg sebagai tahun kabisa (catatan: jd thn 2000 yg habis dibagi 400 adl thn kabisat)
Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pd thn 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hr jatuh pd bln October, pd bln Oktober 1582itu, setelah tanggal tgl 4 Oktober lsung ke tanggal 14 oktober pd thn 1582 itu.
Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus regious XIII meneapkan 1 Januai sebagai tahun baru lagi. berarti pd perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengetian nabi Isa. as (Yesu) lahir pd tgl 25, dan permualaan musim semi pd bln MAret.

Dengan keputusan tersebut diatas, khususnya yg menyangkut tahun kabisat, koreksi hanya akan terjadi setiap 3323 thn, karena dlm jangka tahun 3323 thn itu kekuarangan beberapa detik tiap tahun akan terkumpul menjadi satu hari, berarti bila tidak ada koreksi, tiap 3323 thn jatuhnya musim semi maju satu hari dari patokan, dalam perkembangannya, tarikh masehi dpt diterima oleh seluruh dunia utk perhitungan dan pendokumentasian saktu scr internasional.
Sikap Islam

Allah SWT berfirman :
Peringatan
Qs.39/14. Katakanlah : “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatankepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku

menurut ayat diatas umat Islam diperintahkan dlm mengabdi kepada Allah SWT hrs memurnikan ibadahnya. artinya umat Islam hanya boleh menjalanan apa yang diperintahkan Allah swt, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

sebagai perumpamaan; apabila seorang majikan mempunyai banyak karyawan, maka semua karyawan tidak boleh mencampurkan perintah majikan dengan perintah diluar majikan. maka apabila ada karyawan yg memakai aturan orang lain maka karyawan tersebu akan dipecat.

Peringatan
Qs. 2:12. : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. KAtakanlah:”sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.

Larangan
Qs. 2:120 : Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu Qs. 2:135; 2:109; 86:15; 5:82; 41:26; 4:45,46; 4:52; 5:81; 5:62; 62:6; 13:36; 63:4; 3:160; 4:16; 6:116; Yer 35:12-18

Tarikh tahun Masehi yg dipakai secara internasional sekarang ini ternyata bukan perhitungan tahun Masehi secara murni. tetapi perhitungan berdasarkan Astrologi Mesopotamia yg dikembangkan oleh astronum-astronum pr penyembah dewa-dewa. maka nama2 bulanpun memakai nama dewa dan tokoh2 penceus tarikh kalender Masehi.
Tarikh masehi yang sekarang ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristen se-Dunia.

Bagi umat Islam Allah swt sdh memasang rambu2 yg hrs ditaati oleh seluruh umat Islam se-Dunia yaitu tidak boleh atau dilarang mengikuti tradisi atau kebiasaan atau aturan yag dipakai oleh orang Yahudi dan orang2 Kristen. Allah swt mengancam , apabila umat Islam mengikuti tradisi mereka maka Allah swt tidak mau lagi menjadi pelindung dan penolong bagi umat Islam.

semoga umat Islam memikirkan masalah ini

dikutip dr : Koran Pak Oles Edisi 71 Minggu ke-2, Desember 2004
http:rendyaslum.worpres.com

Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi?


Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?

Bolehkah Merayakannya?

Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:

1. Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
2. Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
3. Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
4. Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Allah. Wallahu a’lam…

***WWW.muslimah.or.id

Rabu, 10 November 2010

TIPS HAJI MABRUR CARA RASULULLAH SAW

Ritual haji yang dilakukan umat Islam sekarang mengikuti cara yang dilakukan Rasulullah. Anda ingin mengetahui bagaimana cara haji Rasulullah? Berikut tata cara dan urutan haji Beliau:

Berpakaian Ihram

Pada hari sabtu, 25 Zulkaedah tahun 10 hijrah, Rasulullah saw telah menyempurnakan amalan-amalan sunat ihram, mamakai ihram dan berniat ihram di Zulhulaifah (Bir Ali) sekarang yang berjarak 10 km dari Madinah.
Bagaimana dengan wanita yang baru saja melahirkan? Rasulullah saw memerintahkan untuk segera mandi dan kembali berihram. Ini dicontohkan ketika Rasulullah saw bertemu dengan rombongan Asma binti Uwais yang baru saja melahirkan. Kepada Asma Beliau memerintahkannya untuk segera mandi dan memakai kembali ihramnya.

Membaca Talbiyah

Setelah salat di masjid setempat, Beliau bergegas menuju Al-Baida (salah satu tempat di dekat masjid) dan Rasulullah saw memimpin para jamaah membaca Talbiyah dengan keras, "Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik, Innal hamda wanikmata laka wal mulk laa syarika lak", artinya "Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi perintah-Mu, Ya Allah, sesungguhnya segala puji dan nikmat itu adalah milik-Mu.

Berniat Haji

Setelah mengeraskan bacaan Talbiyah tersebut Rasulullah saw berniat haji. Mengapa tidak sekalian saja berniat umrah? Rasulullah saw tidak melakukannya, sebab saat itu memang belum mengetahui tentang ibadah umrah, sebagaimana hadis beliau, "waktu itu, kami hanya niat haji, sebab kami belum tahu tentang umrah".

Tawaf

Setelah berniat haji, Rasulullah saw segera kembali ke Makkah (ka'bah). Sebelum memulai tawaf, Rasulullah saw memegang dan mencium Hajar Aswad. Kemudian Rasulullah jalan cepat (raml) pada tiga putaran pertama dan setelah itu berjalan biasa (masyi). Sehabis tawaf selanjutnya Beliau pergi ke Maqom Ibrahim serta membaca doa dalam surat Al Baqarah ayat 125.

Salat Dua Rakaat

Setelah itu Rasulullah saw salat sunnah dua rakkat di antara Maqom Ibrahim dan Ka'bah. Pada rakaat pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua surat Al Ikhlas. Sehabis salam, Beliau kembali ke rukun Hajar Aswad dan mengusap serta menciumnya.

Sa'i

Setelah itu Rasulullah saw keluar menuju Bukit Shafa untuk menjalankan sa'i. Begitu mendekati Bukit Shafa, Rasulullah saw membaca surat Al Baqarah ayat 158. Rasulullah saw memulai sa'i dari Bukit Shafa dan Beliau mengumandangkan takbir 3 kali dan berdoa: "Laa ilaaha illahllah wahdahu laa syariikalah, lahulmulku wa lahul hamdu wahuwa 'alla kulli syaiin qadir. Laa ilaaha illallah wahdah anjaza wa'dah wanashara 'abdah wa hazamal ahzaba wahdah. Artinya, "Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kerajaan (kekuasaan) dan segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya yang Mahamenepati janji-Nya dan menolong para hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya sendirian.
Setelah itu Rasulullah saw turun dari Bukit Shafa ke Marwah dan setibanya di Bathul Waadi, Rasulullah saw melanjutkan melakukan sa'i, dengan jalan cepat sampai ke bagian yang agak naik (disunahkan jalan cepat bagi jamaah pria), kemudian berjalan biasa sampai ke Bukit Marwah, menghadap kiblat dan bertakbir seraya berdoa sebagaimana saat berada di Bukit Shafa.

Tawaf dan Sa'i

Selama 4 hari Rasulullah saw berada di Makkah, menyelesaikan tawaf dan sa'i bersama istri dan para sahabat. Dengan demikian, Beliau menyebutkan bahwa yang demikian itu berarti Rasulullah saw telah melakukan sebagian Haji Ifrad bersama ratusan sahabat. Sedangkan yang lainnya ats petunjuk Nabi saw melakukan Haji Tamatuk.

Menuju Mina

Pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah)10 H, dengan memakai pakaian ihram untuk haji, Rasulullah bersama para sahabat berangkat menuju Mina dengan unta selama satu hari
satu malam. Sesampainya di Mina Rasulullah salat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Shubuh dan beristirahat menunggu terbitnya matahari.

Wukuf

Setelah Shubuh Beliau mendirikan tenda di Namirah (dekat Arafah). Pagi itu bertepatan dengan hari Arafah (9 Zulhijjah, 10 H) Rasulullah meninggalkan Mina menuju Arafah. Di sela-sela perjalanan Beliau berhenti atau berdiri di Muzdalifah.
Waktu itu, Rasulullah saw tidak segera masuk ke Arafah, melainkan tinggal beberapa saat di Namirah sampai matahari tergelincir. Setelah itu Beliau berangkat menuju lembah Wadi Aranah (Bathul Wadi) dekat Arafah dan berkhutbah.
Begitu waktu Dzuhur tiba, Rasulullah saw sudah sampai di Arafah. Beliau melaksanakan salat Jamak Taqdim (Ashar dan Dzuhur) dengan dua iqamat.
Setelah itu barulah Rasulullah saw menuju tempat wukuf di tengah-tengah Arafah di kaki Bukit Jabal Rahmah. Di tempat inilah Beliau sambil mengahadap kiblat, berdoa dan berzikir sampai matahari terbenam.

Menuju Muzdalifah

Setelah wukuf, Rasulullah munuju Muzdalifah (lembah sepanjang 4km di antara Lembah Muhassir sebelah barat dan Al-Ma'zamin di sebelah timurnya, Rasulullah salat jamak Ta'khir (Maghrib dan Isya) dengan satu adzan dan satu iqamat dan tidak salat sunnah apapun di antara keduanya.

Melempar Jumroh

Setelah itu Rasulullah bermalam sampai terbit fajar, mempersiapkan tenaga untuk melempar jumroh di Mina. Seusai salat Shubuh Beliau naik unta dan berhenti sejenak di Al-Masy'aril Haram (sebuah bukit terletak di perbatasan Mudzalifah), Rasulullah saw berhenti sejenak menghadap kiblat lalu berdoa dan bertakbir.
Rasulullah melempar jumroh Aqabah tujuh kali diselingi takbir yang dilakukan dari arah Bathul Wadi Mina. Perlu dicatat, lokasi Jumroh Aqabah dan Lembah Muhassir tidak termasuk daerah Mina sehingga sah untuk bermalam.

Memotong Hewan Kurban

Selesai melontar Jumroh, Rasulullah memotong 100 ekor unta, 63 ekor di antaranya beliau potong sendiri sedan yang 37 ekor lagi diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib.
Setelah prosesi itu Rasulullah bergegas meninggalkan Mina menuju Masjidilharam, Makkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah (Tawaf Rukun) karena merupakan bagian dari Rukun Haji yang tidak boleh ditinggalkan.
Diterbitkan oleh aalfarghani . Lintasberita.com